Minggu, 14 Desember 2014

Sekolah Lagi

Oleh: Ismandini

Bagian#1
"Halo...Bu..mau ga tahun ini sekolah?",tanya Kasubag kepegawaian melalui telpon kepadaku.Jujur aku bingung menjawabnya,karena ini di luar perencanaan.Tapi tiba-tiba saja jawaban "iya,mau Bu" sudah terlontar dari bibirku,mendahului isi pikiranku yang campur aduk. Bagaimana tidak bingung,karena aku harus menjawabnya segera berhubung sudah diminta Pak Sekda.Sebetulnya aku tidak ingin S2 di Bandung,karena aku sedang menunggu pembukaan S2 beasiswa Bappenas untuk pilihan ke luar negeri. Tapi aku tidak enak karena namaku dibidik oleh pihak Gedung Sate.Nanti kalau aku menolak khawatir terkesan sombong. Akhirnya aku terima tawaran itu.

Kebetulan aku dan 4 orang kawanku yang dipilih memang sebelumnya sudah pernah tes TPA dan kami tinggal menunggu panggilan. Mungkin ini jodohku,kembali sekolah di kandang sendiri.Akhirnya aku menjadi mahasiswa kembali. Lumayan juga aku menjalani hari-hari sekolah dengan kondisi sudah punya 3 anak,usia 4 tahun,3 tahun dan 1 tahun.Dan saat itu suamiku kerja di Jakarta,pulang sepekan sekali.Di rumah pun pembantu tak selalu ada. Alhasil aku dinobatkan menjadi mahasiswa paling repot di kelas.Hampir setiap hari aku sudah pergi jam 6 pagi dan pulang saat anak-anak sudah tidur.Karena jarak tempuh rumah ke kampus lumayan jauh. Dengan belanjaan harian keperluan anak-anakku yang kubeli sebelum pergi ke kampus,aku tetap percaya diri masuk ke kelas.
Kadang anak-anak aku titipkan ke rumah orang tua.Dan semuanya aku lakukan dengan gerak cepat, mengingat ritme kuliah pun tak mengenal kompensasi bagiku.Semua dianggap sama,baik yang masih lajang, punya anak sedikit atau anak banyak. Sebenarnya di kelas pun aku sering tertidur saking lelahnya.Tapi teman di sebelahku bingung karena setelah bangun tidur,aku bisa mengajukan pertanyaan kepada dosen. Aku pun tak tahu,mungkin memang mimpiku berisi materi kuliah.
Ritme kuliah selama 1 tahun lebih aku jalani dengan pontang-panting. Anak-anak sakit,urusan rumah tangga seperti pompa air di rumah rusak,pembantu gonta-ganti sudah jadi makananku sehari-hari yang kutanggung sendiri tanpa suami. Tapi aku tetap mengejar kuliah, tugas-tugas sebaik-baiknya.Tentu saja banyak pengorbanannya. Bersabar dan berusaha terus-menerus.Puji syukur ke hadirat-Nya,aku bisa melewati masa-masa kuliah hingga tibalah aku mengerjakan proposal penelitian untuk pembuatan Tesis.Aku kaget, ternyata aku hamil muda anak ke 4 kala itu.

Pada saat yang bersamaan, hampir 2 pekan tak ada khadimat di rumah.Dan rumahku sudah seperti kapal pecah. Aku tak tahan juga,menangis."Halo,Umi..saya bingung.Di rumah tak ada yang membantu.Sedang saya harus membuat proposal penelitian. Anak-anak tidak ada yang mengasuh,"kataku sambil sesenggukan saat menelpon seorang kawan pengajianku."Gini aja.Anak-anak titipin ke rumah Umi. Biar nanti Atin yang antar jemput anak-anak.Teteh konsentrasi saja mengurus sekolah,"kata Umi Husna. Luar biasa AllahSWT menolongku melalui malaikatnya itu.Akhirnya selama aku mengerjakan proposal penelitian,keluarga Umi Husna mengasuh ketiga anakku. Sore harinya menjelang malam aku menjemput mereka menggunakan angkutan umum. Capeknya jangan ditanya lagi,luar biasa rasanya bagi seorang ibu hamil muda.

Dengan tabah,kujalani kondisi itu hingga proposalku selesai. Rupanya اَللّهَ punya skenario lain dengan menyuruhku sekolah di Bandung. Bapakku terkena stroke.Alhasil sebagai anak tertua aku pun ikut merawat beliau di rumah sakit. Bahkan saat Bapak pingsan di rumah,aku ikut menggotongnya tanpa peduli sedang hamil. Tesisku semakin dikejar deadline,berpacu dengan kondisi Bapak yang kian kritis.Tesis yang tak bisa semalam jadi,tentu saja berkali-kali dibongkar bersama dosen pembimbing.Sangat melelahkan bahkan nyaris membuatku hampir putus asa mengejar wisuda terdekat. Pikiranku semakin berganda,karena urusannya bertambah tidak hanya memikirkan anak-anakku. Pada saat itu aku dituntut semakin meningkatkan konsentrasi agar tidak pecah,karena taruhannya besar.Beasiswaku harus dikembalikan ke negara jika aku gagal tugas belajar.
Tak ada pilihan lain,aku harus terus maju.Hidup memang penuh perjuangan dan pengorbanan.







#Bagian2

Take it or leave it,demikian prinsipku waktu itu.Kalau aku "leave it" artinya aku menunda kelulusanku yang tinggal beberapa saat,tapi akan semakin repot karena bertepatan dengan waktu melahirkan. Aku ambil "take it" dan jangan tanya bagaimana kondisiku saat itu. Semua kulakukan dengan gerak cepat,dan kuhubungkan doa-doa ke langit mohon pertolongan-Nya.
"Bapak pingsan lagi," kata ibuku lewat telpon di Subuh hari."Ya udah Mam,bawa aja ke rumah sakit.Nanti aku nyusul," usulku.Ya,bapakku bolak-balik rumah dan rumah sakit.Dan ini yang kedua kalinya.

Pagi itu sebenarnya aku akan menjalani sidang ujian.Kukemas peralatan untuk presentasi,kubereskan urusan anak-anak dan bergegas ke rumah sakit. Kugenggam tangan Bapak saat kami bertemu."Pak,aku mau sidang pagi ini.Doakan ya,"kataku berbisik di telinga Bapak yang terus memegang tasbih berdzikir. Bapak yang mulai sadar pun mengangguk.
Aku melesat ke luar rumah sakit memanggil taksi menuju kampus,karena jam 9 pagi aku ditunggu dosen penguji.Setelah melewati pertanyaan-pertanyaan dosen penguji yang cukup "killer" itu,berakhirlah masa yang sangat menegangkan.Aku lega,kegugupanku berakhir."AlhamdulillahYa اَللّهَ,terima kasih atas segalanya," ucapku haru.

Hari itu juga batas akhir rapat dosen yang menentukan siapa yang akan lulus pada priode terdekat.
Akhirnya aku bisa terbawa sebagai calon wisudawati gelombang pertama bersama 12 kawan yang lain.Sedangkan 28 kawan lainnya masih bergelut dengan tesisnya.Aku lulus dengan IPK selisih 0,01 dari standar cum laude."Ya,sudah tak apa.Yang penting aku lulus cepat. Jadi pikiranku tenang,"gumamku sendiri. Sidang ujian selesai,tapi perbaikan tesis masih jalan. "Neng, ini Bapak makin kritis,"kata adikku lewat telpon."Ya,sebentar.Aku nanti ke sana," jawabku sambil menyusun perbaikan-perbaikan Tesis yang harus segera dikumpulkan.Aku tahu apa arti perkataan adikku,karena Bapakku mulai koma.Aku pun tak tahan,menangis sejadi-jadinya sambil terus mengetik perbaikan tesis di ruang kuliah. Bergegas kubereskan laptop dan berkas yang berserakan,aku melangkah ke tempat penjilidan di luar kampus. Usai menyerahkan tesis dan kopiannya itu,aku pun berjalan ke arah rumah sakit yang tak jauh dari kampus.Bapak sudah koma.Hanya keajaiban اَللّهَ SWT yang bisa mengembalikan kesadarannya.

"Pak,ini aku datang," kataku bersimpuh didekatnya. Lama kupandangi alat pendeteksi detak jantung.Penurunan suhu tubuhnya yang terukur semakin lama semakin jelas terlihat. Hingga akhirnya Innalillahi, Bapakku pun berpulang ke Rahmatullah. Sepekan berlalu,aku pun diwisuda bersama ratusan mahasiswa lainnya di balairung yang megah kampus ternama di Indonesia. Aku mengenakan toga dan menangis."Ini untukmu,Bapak,"bisikku."Ini juga untuk kalian,orang-orang yang aku sayangi. Anak-anakku,suamiku,orang tuaku.Terima kasih untuk kalian semua hingga hari ini aku bisa berdiri disini. Aku akan terus berjuang untuk membuat kalian semua bahagia."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar