Oleh: Ismandini
Bagian#1
"Halo...Bu..mau ga tahun ini
sekolah?",tanya Kasubag kepegawaian melalui telpon kepadaku.Jujur aku
bingung menjawabnya,karena ini di luar perencanaan.Tapi tiba-tiba saja jawaban
"iya,mau Bu" sudah terlontar dari bibirku,mendahului isi pikiranku
yang campur aduk. Bagaimana tidak bingung,karena aku harus
menjawabnya segera berhubung sudah diminta Pak Sekda.Sebetulnya aku tidak ingin
S2 di Bandung,karena aku sedang menunggu pembukaan S2 beasiswa Bappenas untuk
pilihan ke luar negeri. Tapi aku tidak enak karena namaku dibidik
oleh pihak Gedung Sate.Nanti kalau aku menolak khawatir terkesan sombong. Akhirnya aku terima tawaran itu.
Kebetulan aku dan 4 orang kawanku yang
dipilih memang sebelumnya sudah pernah tes TPA dan kami tinggal menunggu
panggilan. Mungkin ini jodohku,kembali sekolah di
kandang sendiri.Akhirnya aku menjadi mahasiswa kembali. Lumayan juga aku menjalani hari-hari
sekolah dengan kondisi sudah punya 3 anak,usia 4 tahun,3 tahun dan 1 tahun.Dan
saat itu suamiku kerja di Jakarta,pulang sepekan sekali.Di rumah pun pembantu
tak selalu ada. Alhasil aku dinobatkan menjadi mahasiswa
paling repot di kelas.Hampir setiap hari aku sudah pergi jam 6 pagi dan pulang
saat anak-anak sudah tidur.Karena jarak tempuh rumah ke kampus lumayan jauh. Dengan belanjaan harian keperluan
anak-anakku yang kubeli sebelum pergi ke kampus,aku tetap percaya diri masuk ke
kelas.
Kadang anak-anak aku titipkan ke rumah
orang tua.Dan semuanya aku lakukan dengan gerak cepat, mengingat ritme kuliah
pun tak mengenal kompensasi bagiku.Semua dianggap sama,baik yang masih lajang, punya anak sedikit atau anak banyak. Sebenarnya di kelas pun aku sering tertidur
saking lelahnya.Tapi teman di sebelahku bingung karena setelah bangun tidur,aku
bisa mengajukan pertanyaan kepada dosen. Aku pun tak tahu,mungkin memang mimpiku
berisi materi kuliah.
Ritme kuliah selama 1 tahun lebih aku
jalani dengan pontang-panting. Anak-anak sakit,urusan rumah tangga seperti pompa
air di rumah rusak,pembantu gonta-ganti sudah jadi makananku sehari-hari yang kutanggung
sendiri tanpa suami. Tapi aku tetap mengejar kuliah, tugas-tugas
sebaik-baiknya.Tentu saja banyak pengorbanannya. Bersabar dan berusaha terus-menerus.Puji
syukur ke hadirat-Nya,aku bisa melewati masa-masa kuliah hingga tibalah aku
mengerjakan proposal penelitian untuk pembuatan Tesis.Aku kaget, ternyata aku
hamil muda anak ke 4 kala itu.
Pada saat yang bersamaan, hampir 2 pekan tak
ada khadimat di rumah.Dan rumahku sudah seperti kapal pecah. Aku tak tahan
juga,menangis."Halo,Umi..saya bingung.Di rumah tak ada yang
membantu.Sedang saya harus membuat proposal penelitian. Anak-anak tidak ada yang
mengasuh,"kataku sambil sesenggukan saat menelpon seorang kawan
pengajianku."Gini aja.Anak-anak titipin ke rumah Umi. Biar nanti Atin yang
antar jemput anak-anak.Teteh konsentrasi saja mengurus sekolah,"kata Umi
Husna. Luar biasa AllahSWT menolongku melalui
malaikatnya itu.Akhirnya selama aku mengerjakan proposal penelitian,keluarga
Umi Husna mengasuh ketiga anakku. Sore harinya menjelang malam aku menjemput
mereka menggunakan angkutan umum. Capeknya jangan ditanya lagi,luar biasa
rasanya bagi seorang ibu hamil muda.
Dengan tabah,kujalani kondisi itu hingga
proposalku selesai. Rupanya اَللّهَ punya
skenario lain dengan menyuruhku sekolah di Bandung. Bapakku terkena stroke.Alhasil
sebagai anak tertua aku pun ikut merawat beliau di rumah sakit. Bahkan saat
Bapak pingsan di rumah,aku ikut menggotongnya tanpa peduli sedang hamil. Tesisku semakin dikejar deadline,berpacu
dengan kondisi Bapak yang kian kritis.Tesis yang tak bisa semalam jadi,tentu
saja berkali-kali dibongkar bersama dosen pembimbing.Sangat melelahkan bahkan
nyaris membuatku hampir putus asa mengejar wisuda terdekat. Pikiranku semakin
berganda,karena urusannya bertambah tidak hanya memikirkan anak-anakku. Pada saat itu aku dituntut semakin
meningkatkan konsentrasi agar tidak pecah,karena taruhannya besar.Beasiswaku
harus dikembalikan ke negara jika aku gagal tugas belajar.
Tak ada pilihan lain,aku harus terus
maju.Hidup memang penuh perjuangan dan pengorbanan.
#Bagian2
Take it or leave it,demikian prinsipku
waktu itu.Kalau aku "leave it" artinya aku menunda kelulusanku yang
tinggal beberapa saat,tapi akan semakin repot karena bertepatan dengan waktu
melahirkan. Aku ambil "take it" dan jangan
tanya bagaimana kondisiku saat itu. Semua kulakukan dengan gerak cepat,dan
kuhubungkan doa-doa ke langit mohon pertolongan-Nya.
"Bapak pingsan lagi," kata ibuku
lewat telpon di Subuh hari."Ya udah Mam,bawa aja ke rumah sakit.Nanti aku
nyusul," usulku.Ya,bapakku bolak-balik rumah dan rumah sakit.Dan ini yang
kedua kalinya.
Pagi itu sebenarnya aku akan menjalani
sidang ujian.Kukemas peralatan untuk presentasi,kubereskan urusan anak-anak dan
bergegas ke rumah sakit. Kugenggam tangan Bapak saat kami
bertemu."Pak,aku mau sidang pagi ini.Doakan ya,"kataku berbisik di
telinga Bapak yang terus memegang tasbih berdzikir. Bapak yang mulai sadar pun mengangguk.
Aku melesat ke luar rumah sakit memanggil
taksi menuju kampus,karena jam 9 pagi aku ditunggu dosen penguji.Setelah melewati pertanyaan-pertanyaan
dosen penguji yang cukup "killer" itu,berakhirlah masa yang sangat
menegangkan.Aku lega,kegugupanku berakhir."AlhamdulillahYa اَللّهَ,terima kasih atas segalanya," ucapku haru.
Hari itu juga batas akhir rapat dosen yang
menentukan siapa yang akan lulus pada priode terdekat.
Akhirnya aku bisa terbawa sebagai calon
wisudawati gelombang pertama bersama 12 kawan yang lain.Sedangkan 28 kawan
lainnya masih bergelut dengan tesisnya.Aku lulus dengan IPK selisih 0,01 dari
standar cum laude."Ya,sudah tak apa.Yang penting aku lulus cepat. Jadi
pikiranku tenang,"gumamku sendiri. Sidang ujian selesai,tapi perbaikan tesis
masih jalan. "Neng, ini Bapak makin
kritis,"kata adikku lewat telpon."Ya,sebentar.Aku nanti ke
sana," jawabku sambil menyusun perbaikan-perbaikan Tesis yang harus segera
dikumpulkan.Aku tahu apa arti perkataan adikku,karena Bapakku mulai koma.Aku
pun tak tahan,menangis sejadi-jadinya sambil terus mengetik perbaikan tesis di
ruang kuliah. Bergegas kubereskan laptop dan berkas yang
berserakan,aku melangkah ke tempat penjilidan di luar kampus. Usai menyerahkan tesis dan kopiannya
itu,aku pun berjalan ke arah rumah sakit yang tak jauh dari kampus.Bapak sudah
koma.Hanya keajaiban اَللّهَ SWT yang bisa mengembalikan kesadarannya.
"Pak,ini aku datang," kataku
bersimpuh didekatnya. Lama kupandangi alat pendeteksi detak
jantung.Penurunan suhu tubuhnya yang terukur semakin lama semakin jelas
terlihat. Hingga akhirnya Innalillahi, Bapakku pun
berpulang ke Rahmatullah. Sepekan berlalu,aku pun diwisuda bersama
ratusan mahasiswa lainnya di balairung yang megah kampus ternama di Indonesia. Aku mengenakan toga dan menangis."Ini
untukmu,Bapak,"bisikku."Ini juga untuk kalian,orang-orang yang aku
sayangi. Anak-anakku,suamiku,orang tuaku.Terima kasih untuk kalian semua hingga
hari ini aku bisa berdiri disini. Aku akan terus berjuang untuk membuat kalian
semua bahagia."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar