9 desember 2014, seminggu sudah lewat jadwal imunisasinya. Imunisasi dpt 3. Bermula dr hidung mampet dan bersin2. Sampai fathiya tidak bs tidur dengan nyaman dalam 2 malam. Membuat saya dan suami terjaga bergantian sepanjang malam. Karena bayi cantikku inu hanya mau tidur jika berada dalam gendongan. Sudah kami coba untuk melakukan nebulizer untuk meringankan pernapasannya.
Ingatanku melayang 4 bulan yang lalu. Tepat 1 syawal, hari pertama lebaran. Saat orang2 bersuka cita berkumpul dengan keluarga besarnya.
Fathiya ku menangis gelisah. Saya mencoba menyusuinya. Sepertinya dia enggan menyusu. Beberapa hari ini keinginan menyusunya jauh berkurang dibanding sebelumnya. Pengalaman dengan kakaknya rahma tiap sakit, langsung digenjot dengan frekuensi asi yang lebih sering. Dan rahma sepertinya tambah nempel dengan banyak minum asinya. Dua atau tiga hari kemudian biasanya sembuh. Saya masih berkeyakinan sama bahwa asi adalah obat yang paling mujarab buat bayi. Seperti antibiotik dan autoimun langsung dari Allah.
Tiba-tiba keraguan mulai muncul. Saya merasa fathiya semakin lemah. Ketika batuk bibirnya berubah dari merah tua menjadi biru. Setiap batuk seperti disertai tarikan nafas yang berat seperti nenek2 ato orang yang terserang sesak napas. Perasaan saya sebagai ibu mengatakan ada sesuatu yang tidak beres pada bayi mungil saya.
Hari itu, fitra, rahma dan abinya tetap pergi sholat idul fitri. Selesei sholat saya berdiskusi dengan suami. Suami bilang fathiya harus kita bawa ke rumah sakit. Sebelumnya kami sempat meminta saran ke dokter anak langganan. Dan dokter anak menyarankan untuk dibawa ke igd saja. Dengan gejala yang kami sampaikan, dokter memperkirakan fathiya terkena pertusis. Setelah sholat dhuhur dan bersiap2 berangkatlah kami semua ke rumah sakit. Sampai di igd, dokter jaga menanyakan tentang sakit anak kami.
Dokter jaga menyarankan totgen paru2 setelah diskusi dengan dokter anak via telpon. Dia menanyakan apakah ibu mau anaknya dirawat saja? Saya jawab "iya" karena sudah kesulitan mendapatkan asi langsung. Akhirnya diputuskan akan dipasang infus.
Pemasangan infus pun dilakukan oleh dua suster, satu laki-laki dan satu suster perempuan. Saya bersama fitra dan rahma berada di sebelahnya. Perasaan saya sudah lebih tenang karena fathiya sudah berada di tangan yang tepat seperti yang dibisikkan suami ke saya.
Ketika jarum ditusukkan, tiba-tiba bayi mungilku terbatuk-batuk kembali dengan tarikan napas yang berat. Bibirnya mulai betubah kembali menjadi biru keuanguan. Suster langsung menghentikan pemasangan infus dan membalik badannya sambil menepuk2 punggungnya serta berteriak dengan kencang emergency-emergency.
Suster tetap berusaha menepuk2 punggungnya, sedang suster laki2nya membantu dengan memberikan nebulizer. Saya hanya bisa terpana melihat itu tanpa bisa melakukan apapun. Tanpa terasa air mata saya jatuh. Ya Allah ada apa dengan anak saya. Semoga anak saya baik-baik saja.
"La haula walla kuwata illa billah", tiada daya upaya melainkan hanya Allah.
Tak berapa lama dokter jaga pun datang. Suster melaporkan bahwa bayi saya mengalami "sianosis."
Diputuskan fathiya dibawa ke ruang perawatan di atas dengan pengawasan khusus. Kudekap erat2 bayiku sambil menahan air mata. Sepanjang jalan suster mengingatkan bahwa saya harus waspada. Suster bilang " ibu bukan saya menakut2i tetapi ini sangat bahaya sekali." Banyak bayi meninggal karena henti napas atau kekurangan oksigen.
Sampai di ruang perawatn dokter sudah siap bersama 3 suster. Mulailah dilakukan tindakan medis pada fathiya, nebulizer dan suction bergantian. Serta dipasang alat pengukur kadar oksigen dalam darah. Juga alat bantu oksigen melalui hidung. Karena fathiya merasa tidak nyaman dengan selang oksigen di hidung, diganti dengan kotak kubus yang dialiri oksigen.
Kami sampai tidak ingat bahwa hari itu adalah idul fitri. Sekeluarga tumplek di ruangan itu termasuk fitra dan rahma.
Setelah menjalani perawatan selama seminggu penuh, fathiya diijinkan pulang sesudah kadar leukosit dalam darah pada batas normal. Itupun harus menjalani rawat jalan karena batuknya belum sembuh benar.
Setelah menjalani perawatan selama seminggu penuh, fathiya diijinkan pulang sesudah kadar leukosit dalam darah pada batas normal. Itupun harus menjalani rawat jalan karena batuknya belum sembuh benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar