atas dasar apakah kau bernafas duhai jiwa...
di atas jalan yang mana melangkah tegap dan yakin itu...
beratkah timbangan hingga kau tersenyum...
padahal titik debu pun tak tercatat dalam istana itu...
terasa ringan dan cerah pada ujungnya, walau suara alam meneriakkan sebaliknya...
bahwa rintih kehinaan dan kelaparan pada sisi pandang menunjuk pada hina kerdil jiwa ini...
mereka menolak jika jiwa ini diluluskan memasuki benderang karena katanya diri ini tak lain dari setumpuk daging yang diisi nafas kerdil tanpa ruh...
lalu kita menentang mereka sambil mengatakan kemustahilan sambil pamerkan catatan kita...
kita paparkan bekas airmata malam kita dan hitam di atas alis kita...
kita kuasa membawa rahmat...itu bela kita pada mereka si hina yang tertindas kalah...
itu bela kita atas nama peduli dan taat kita...
kita yakinkan Tuhan untuk berpihak pada kita, yang telah beribu malam kita yakini bahwa kita telah taat...
tetapi kecut dan kerdil adalah saudara kembar yang diperintah Tuhan untuk dihapus pada kita sebelum goresan airmata bisa dibanggakan...
dan dengan mudah si hina kerdil tertindas menyampaikan pada Tuhan...bahwa kecut dan kerdil adalah api dari batu yang menihilkan catatan...dan pahitnya Tuhan terima penjelasan itu...
dan sirnalah benderang kita...tak tampak lagi di ujung jalan...
maka goyahlah surga kita...yang memang sejak awal adalah ilusi yang disusun oleh jiwa yang tak layak...jiwa yang tak tenang...jiwa yang tak disana...tak di benderang...
YL-26122014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar