Kamis, 18 Desember 2014

Sekar dan Kecerdasan Mekanik


Oleh: Erma Yulihastin

“Bunda, aku tahu bagaimana caranya air itu bisa keluar dari galon.”

Saat itu kami berdua sedang bersantai di ruang tengah yang juga merangkap sebagai ruang makan keluarga. Di pojok ruang ada sebuah galon air mineral yang ditempatkan di atas sebuah penampungan air yang terbuat dari keramik. Kran penampungan air minum tersebut memiliki cara kerja tertentu sehingga air akan keluar ketika keran ditarik ke arah atas. 

“Oh, ya? Gimana?” Tanya saja sembari makan.
“Sebentar ya…”
Bergegas putri pertamaku  mengambil sebuah spidol warna hitam dan kertas A4 bekas yang telah ia gambari sebelumnya dengan krayon. Lalu, dengan tangkas dan cekatan, ia pun mulai menggoreskan sketsa menggunakan tangan kirinya, dengan pandangan yang sesekali melirik ke arah galon. Gayanya menggambar sangat meyakinkan, setiap sketsa hanya digoreskan sekali saja tanpa harus diulang atau ditebalkan.

Pertama-tama, ia menggambar kran lengkap dengan bagian-bagiannya. Selanjutnya ia menggambar bagian (semacam selang) yang menghubungkan antara kran dan galon. Di dalam selang tersebut, ia menggambar alat sumbatan atau penghalang dalam posisi vertikal.  Ketiga, ia menggambar galon lalu ia menggambar penampungan keramik dan kaki-kaki yang menyangga di bagian bawahnya. Terakhir, ia menulis “AKUA” di bagian atas gambarnya.  

“Nah, gini Bunda. Kalau ujung kran sebelah sini ditarik ke atas, maka penghalang ini akan berubah posisinya menjadi begini.” Ia  pun mengubah posisi sumbatan tersebut dari vertikal menjadi horisontal.

“Jadi kan kalau begini, air dari galon bisa ngalir…,” ujarnya dengan bersemangat.

“Kok kamu tahu? Siapa yang ngajari?”

“Itu karena aku berpikir Bunda… berpikir…” pilihan kata “berpikir” yang diungkapkannya membuat saya menahan geli.

Saya membatin dalam hati, dulu rasanya waktu saya seumur Sekar (5 tahun 9 bulan), saya tidak secerdas itu. Ah, jangankan sampai berpikir cara kerja sebuah alat, menjelaskan kepada orang lain dengan bantuan gambar pun rasanya dulu tak pernah.

Sementara Sekar, jika saya menanyakannya tentang apapun, ia akan menggunakan kalimat panjang untuk bercerita dan tak lupa mempertegasnya dengan gambar. Seperti saat saya bertanya, “Kamu duduk di barisan pertama atau kedua di kelas?” Atau pertanyaan saya, “Kelas kamu yang sebelah mana, sih?” Maka Sekar dengan antusias mengambil alat gambar dan mulai menggambarkan apa yang saya tanyakan.


Saya percaya, ia tidak mempelajari kecerdasannya itu dari sekolah. Sebab, selama duduk di bangku Taman Kanak-kanak, kegiatannya sehari-hari adalah bermain dan bermain baik sendiri maupun dalam kelompok. Saya memang memilihkan TK yang berorientasi pada “bermain” daripada “belajar” yang kerap diartikan sebagai belajar dalam hal membaca, menulis, berhitung (calistung).

Uniknya, ternyata dengan lingkungan pembelajaran TK yang membebaskan itulah justru yang membuat anak saya dapat berpikir secara kreatif dan cerdas. 

Sementara saya pun yakin, pada usia yang sama, anak saya ternyata  memiliki kecerdasarn spasial, pandang ruang, dan mekanik yang lebih baik daripada saya.

“Tapi, aku nggak tahu caranya kalau krannya ditekan ke bawah..”
Jawabnya mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain mengenali potensi kecerdasan anaknya.

Bandung, 19 Juli 2010.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar