Oleh: Erma Yulihastin
“Bunda, aku tahu bagaimana caranya
air itu bisa keluar dari galon.”
Saat itu kami berdua sedang
bersantai di ruang tengah yang juga merangkap sebagai ruang makan keluarga. Di
pojok ruang ada sebuah galon air mineral yang ditempatkan di atas sebuah
penampungan air yang terbuat dari keramik. Kran penampungan air minum tersebut
memiliki cara kerja tertentu sehingga air akan keluar ketika keran ditarik ke
arah atas.
“Oh, ya? Gimana?” Tanya saja sembari
makan.
“Sebentar ya…”
Bergegas putri pertamaku
mengambil sebuah spidol warna hitam dan kertas A4 bekas yang telah ia gambari
sebelumnya dengan krayon. Lalu, dengan tangkas dan cekatan, ia pun mulai
menggoreskan sketsa menggunakan tangan kirinya, dengan pandangan yang sesekali melirik
ke arah galon. Gayanya menggambar sangat meyakinkan, setiap sketsa hanya
digoreskan sekali saja tanpa harus diulang atau ditebalkan.
Pertama-tama, ia menggambar kran
lengkap dengan bagian-bagiannya. Selanjutnya ia menggambar bagian (semacam selang)
yang menghubungkan antara kran dan galon. Di dalam selang tersebut, ia
menggambar alat sumbatan atau penghalang dalam posisi vertikal. Ketiga,
ia menggambar galon lalu ia menggambar penampungan keramik dan kaki-kaki yang
menyangga di bagian bawahnya. Terakhir, ia menulis “AKUA” di bagian atas
gambarnya.
“Nah, gini Bunda. Kalau ujung kran
sebelah sini ditarik ke atas, maka penghalang ini akan berubah posisinya
menjadi begini.” Ia pun mengubah posisi sumbatan tersebut dari vertikal
menjadi horisontal.
“Jadi kan kalau begini, air dari
galon bisa ngalir…,” ujarnya dengan bersemangat.
“Kok kamu tahu? Siapa yang ngajari?”
“Itu karena aku berpikir Bunda…
berpikir…” pilihan kata “berpikir” yang diungkapkannya membuat saya menahan
geli.
Saya membatin dalam hati, dulu
rasanya waktu saya seumur Sekar (5 tahun 9 bulan), saya tidak secerdas itu. Ah,
jangankan sampai berpikir cara kerja sebuah alat, menjelaskan kepada orang lain
dengan bantuan gambar pun rasanya dulu tak pernah.
Sementara Sekar, jika saya
menanyakannya tentang apapun, ia akan menggunakan kalimat panjang untuk
bercerita dan tak lupa mempertegasnya dengan gambar. Seperti saat saya
bertanya, “Kamu duduk di barisan pertama atau kedua di kelas?” Atau pertanyaan
saya, “Kelas kamu yang sebelah mana, sih?” Maka Sekar dengan antusias mengambil
alat gambar dan mulai menggambarkan apa yang saya tanyakan.
Saya percaya, ia tidak mempelajari
kecerdasannya itu dari sekolah. Sebab, selama duduk di bangku Taman
Kanak-kanak, kegiatannya sehari-hari adalah bermain dan bermain baik sendiri
maupun dalam kelompok. Saya memang memilihkan TK yang berorientasi pada
“bermain” daripada “belajar” yang kerap diartikan sebagai belajar dalam hal
membaca, menulis, berhitung (calistung).
Uniknya, ternyata dengan lingkungan
pembelajaran TK yang membebaskan itulah justru yang membuat anak saya dapat
berpikir secara kreatif dan cerdas.
Sementara saya pun yakin, pada usia
yang sama, anak saya ternyata memiliki kecerdasarn spasial, pandang
ruang, dan mekanik yang lebih baik daripada saya.
“Tapi, aku nggak tahu caranya kalau
krannya ditekan ke bawah..”
Jawabnya mengakhiri penjelasannya
yang panjang lebar.
Tidak ada yang lebih membahagiakan
bagi orang tua selain mengenali potensi kecerdasan anaknya.
Bandung, 19 Juli 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar