Oleh: Yuyun
Salaya : dalam
pertarungan antara pikiran dan perasaan
” Ibu, aku merasa tertuding dengan stigma bahwa
aku egois. Hingga aku berpikir bahwa memang aku yang egois”, aku memulai curhatku pada wanita cantik yang
aku panggil ibu ini.
”Mengapa begitu? Tidak seperti itu, Yuni punya
kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Ingat kesempatan itu
tidak akan datang dua kali”, ungkapnya.
” Tapi ibu, rasanya terlalu berat. Aku seperti
dibenturkan dalam pilihan mengambil tantangan ini atau memilih anak-anak. Menjawab
tantangan berarti mengorbankan anak-anak”, sahutku dengan air mata yang mulai
menetes.
” Dengar, apa Yuni tahu saat ini Ibu ingin belajar
lagi, jadi mahasiswa lagi. Dana sudah ada, Abi mengijinkan, orangtua mendukung,
kos-kosan udah dicari, tapi sampa saat ini Ibu masih seperti ini. Itulah takdir
Allah. Tidak bisa semua terjadi begitu saja. Yuni, kamu punya kesempatan, ambil
dan raihlah itu. Bukankah Islam memerintahkan kita untuk terus belajar
sepanjang hayat, bahkan sampai ke negeri China. Yuni, islam kita membutuhkan
SDM yang cerdas, berkualitas, kalau Yuni bisa sekolah setinggi-tingginya maka
lakukanlah. Apalagi Yuni seorang perempuan, Yuni lihat sendiri berapa banyak
SDM perempuan kita di parlemen dan di pemerintahan, masih sangat sedikit karena
memang kapasitasnya yang masih kurang, tak banyak perempuan yang cerdas dan
punya skill serta didukung oleh pemahaman islam yang kuat. Lebih dari 50%
rakyat kita adalah perempuan. Yuni ngerti?” Jelasnya panjang lebar.
”Iya bu, tapi tetap ada keraguan dan rasa bersalah
saya pada anak-anak, saya berat sekali meninggalkan anak-anak dalam usia mereka
yang masih balita”, air mataku pun makin deras mengalir.
”Yuni, setahun itu hanya sekejap saja, tak lama. Bersabarlah,
yakinlah bahwa kamu mampu melakukan ini semua. Thailand itu dekat kan. Dengar,
sekarang ibu mau tanya, apa suamimu berkeberatan?”
” Tidak, dia bahkan selalu mendukung saya agar
segera sekolah lagi. Sejak sebelum menikah bahkan dia sudah menyuruh saya
melanjutkan sekolah ke luar negeri, mencari beasiswa. Bahkan dia lebih aktif
mencarikan untuk saya ketimbang untuk dirinya sendiri,”
”Nah, apalagi begitu. Cukuplah ijin suamimu sudah
menjadi dasar, cukup sebagai bekalmu, bahkan meskipun Yuni tidak diijinkan oeh
orang tua atau saudara yang lain. Ijin suamimu sudah melebihi semua ijin lain.”
Aku terdiam dan hanya bisa menjawab dengan
tangisan. Rasanya cukup melegakan. Aku tahu aku harus maju, aku tahu aku tak
boleh menyerah pada perasaanku. Tapi tetap saja aku seorang ibu, naluriku
selalu membuatku ingin dekat dengan suami dan anak-anakku. Aku seorang ibu,
keinginanku untuk bersama anak-anak yang lahir dari rahimku tentu saja lebih
kuat dari keinginan seorang ayah untuk dekat dengan anak-anaknya. Dan sekarang
aku harus kuat untuk meninggalkan mereka, untuk mengambil S2 di negeri asing,
mengambil kesempatan beasiswa yang telah terbuka.
Aku teringat saat hendak apply beasiswa ini.
Sempat terlintas keraguan, aku takut diterima. Bodoh memang, seharusnya
mendapat beasiswa itu menggembirakan, tapi untukku malah
menakutkan.Sampai-sampai aku menunda terus pengiriman aplikasi online itu.
”Eh, kalian udah baca email Pak Roy tentang
beasiswa di Mahidol uiversity”, tanya Bu Selma, seorang teman peneliti yang lebih
senior dariku dan teman-teman kantor lain.
” Sudah bu, saya sudah apply”, kata Mas Syarif,
teman seangkatanku yang super kocak.
” Kamu ga coba Yun. Thailand itu dekat lho, cukup bagus lagi. Enak ko dan mungkin persyaratannya lebih
mudah”, tannya Bu Selma padaku.
”Iya tuh, saya sudah bilang berkali-kali, kalian
itu ga usah mikirin kantor mau jadi apa atau gimana, jangan mikirin proyek
terus. kalian harus terus belajar, yang penting belajar Inggrisnya dulu. Banyak
peluang beasiswa berseliweran lewat begitu saja. Apa sih yang kalian tunggu,
lima tahun bekerja di sini tak jadi apa-apa, padahal kalian harusnya sudah jadi
DOKTOR dalam 5 tahun itu”, sambut Bu Anny, ketua KPP kami yang selalu
mengompori kami untuk sekolah. Dia sendiri sudah menyandang gelar PHd dari USA.
”Iya bu, saya mau coba apply juga, tapi belum Bu.
Saya masih mikirin anak-anak dan suami. Berat kalau ditinggal. kalau dapat di
Indonesia, saya prefer di Indonesia saja Bu”, jawabku
”Wah, kamu takut ya suami kamu buka cabang,
hahaha”, ledek Mas Syarif.
”Yun, Thailand itu deket lho, apalagi sekarang ada Air Asia yang
murah. Kamu bisa pulang tiap
bulan lho”, Kata Bu Selma lagi.
”Yun, dengar. Tahun ini tidak ada anggaran
beasiswa tugas belajar dari PPSDM. Ingat kata Pak Roy, jangan menunggu dan
mengandalkan kantor atau pemerintah. kalau
bisa cari sendiri lebih baik dan lebih memudahkan bagi kantor kita
karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sekolah. Kamu sudah dengar kan
pengalaman teman-teman yang berusaha dapat beasiswa dalam negeri. sulitnya
minta ampun, karena yang mau banyak, tapi peluang dan anggaran sedikit.
pokoknya susah lah, mendingan kamu ke luar negeri. Tambah pengalaman, kuliah
jalan, tak perlu keluar biaya apalagi
sampai ngutang sana sini, bahkan kalau hemat beasiswa bisa ditabung sebagian,
gaji tetep ngucur tiap bulan. Jauh lebih melegakan”, kata Bu Anny.
”Iya bu, nanti saya coba apply. Masih ada 4 hari lagi sebelum closing date”,
jawabku akhirnya.
Dan begitulah, aku pun apply beasiswa tersebut, 2
hari sebelum tanggal terakhir. seminggu kemudian aku dapat balasan bahwa aku
lolos seleksi putaran pertama. Kemudian aku mengirimkan berkas-berkas transkip
dan ijazah S1 yang itupun disiapkan oleh suamiku. Lalu seminggu kemudian aku
mendapat email bahwa au lolos dan mendapat beasiswa penuh dari Ford Foundation.
Saat itulah justru aku menjadi bimbang. mengambil kesempatan itu berarti
meninggalkan keluargaku, tidak mengambil kesempatan itu akan sangat disayangkan
karena aku mendapat full scholarship dan aku khawatir peserta tahun depan dari
Indonesia akan di-black list jika aku mundur tahun ini. Aku pun berkonsultasi
dengan penerima beasiswa progam ini tahun-tahun sebelumnya. Dan aku
menyimpulkan bahwa yang terbaik adalah mengambil peluang ini.
Selain itu aku pun banyak berbagi dengan
teman-teman seniorku di kantor, salah satunya Bu Rini.
”Bu, gimana ya. Saya ambil apa tidak ya peluang
itu?, tanyaku pada Bu Rini
”Lha ya ambil lah Yun, mumpung anak-anak masih
kecil.”, jawabnya.
”Lho ko gitu Bu, justru saya khawatir karena
anak-anak masih kecil.” timpalku heran
”Aku ini udah pernah ngerasain kuliah saat
anak-anak sudah beranjak dewasa, ternyata lebih susah.” jawabnya lagi.
”Maksudnya lebih susah gimana Bu, saya ngga
ngerti”, tanyaku
”Iya, kalau anak kecil itu masih bisa dialihkan
perhatiannya. Lain dengan anak yang beranjak dewasa, dia harus diperhatikan
lebih banyak mulai dari belajarnya, cara bergaulnya, teman-temannya dan urusan
lainnya yang jauh lebih rumit daripada sekedar memberi makan atau mengajak
main.”,ungkap Bu Rini
”Oh, begitu Bu”,
”Iya, begitu. Aku soalnya sudah ngalamin”.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kucium tangan suamiku setelah kami shalat isya
bersama. Benakku dipenuhi pertanyaan yang ingin kusampaikan pada suamiku, aku
ingin meyakinkan diriku dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
”Yah, mengapa Ayah mengijinkan aku pergi”, tanyaku
sambil meletakkan kepalaku di bahunya.
”Kenapa tanya begitu, Bunda pergi untuk mencari
ilmu kan”, dia balik bertanya
”Tapi Yah, bukankah tempatku yang nyaman adalah di
sisimu dan anak-anak. Bahagiaku adalah bersama kalian, orang-orang yang paling
aku sayangi, yang ingin aku lindungi, aku kasihi setiap saat. Aku ingin selalu
melihat kalian di sisiku, meyakinkan kalian aman”, ungkapku
”Aku tahu, kamu memang selalu ingin jadi wonder
woman, menyelesaikan segala masalah. Sayangku, ini adalah waktu di mana kau
harus belajar mempercayakan berbagai urusan rumah ini dan anak-anak padaku,
memberi aku kesempatan untuk belajar menjadi seorang ayah yang menghandle
semuanya, tidak selalu bergantung padamu”, ungkapnya di luar dugaanku
Aku merasa tersentuh oleh pernyataan itu. Aku
menangis.
”Bunda, kamu harus lihat ini sebagai sebuah
lompatan. Kamu tahu elektron terluar, dia harus melepaskan energi agar bisa
berpindah ke lintasan yang lebih dalam. Lihatlah ini sebagai sebuah lompatan
kuantum. Lihatlah betapa mudahnya Allah membukakan jalan untukmu, Allah
memilihmu di antara teman-temanmu yang lain, Allah tengah menghamparkan karpet
merah untukmu. Berjalanlah di atasnya, lalui jalan itu, gapailah apa yang akan
Allah takdirkan untukmu”, ucapnya panjang lebar.
Aku hanya mampu tergugu di bahunya, deras air
mataku mengalir. Dia mengusap air mataku, aku sungguh terlarut dalam perasaanku
saat ini. Perlahan kulihat ia pun meneteskan air mata, sesuatu yang sangat jarang
aku lihat pada sosok lelaki yang telah 5 tahun menjadi pendamping hidupku. Aku
tahu, ini pun bukan keputusan yang mudah untuknya.
”Bunda ingat bagaimana kita dulu, saat Najya lahir
saat aku jobless, lalu Hanun lahir juga aku jobless. Bagaimana dulu Allah
selalu memberikan jalan keluar bagi kita, Bunda ingat kan? Lalu bagaimana
ketika aku memutuskan untuk kuliah lagi, saat itu kaupun tak begitu mendukungku
karena alasan ekonomi, tapi lihat bagaimana Allah memberi jalan dengan adanya
beasiswa untukku. Lalu lihat lagi ketika kau berkeinginan keras untuk
mengontrak rumah ini dalam kondisi penghasilanku pas-pasan, betapa Allah
berikan jalan sehingga aku mendapat pekerjaan lain. lihatlah semua itu. Dan,
sekarang Allah berikan jalan lain untuk kita, husnudzan dan sepantasnya kita
bersyukur pada Allah. Allah pasti punya rahasia di balik ini semua. Bunda ingin
punya rumah kan, bukankah bunda selalu berkeras untuk yang satu itu?”,
pancingnya.
”Heeh”, aku hanya mamu mengucapkan itu.
”Ya, mungkin ini jalannya. Sudahlah, Bunda harus
kuat, percayalah kita mampu menjalani ini semua. Break the limit, making the impossible become
possible, the uncertain become certain, take the risk. Buatlah perubahan, Keluarlah dari zona nyaman, jawablah tantangan,
ciptakan peluang itu. Itulah
karakter seorang pejuang. Dan aku percaya istriku ini adalah seorang pejuang,
karena dari dulu kau selalu berjuang. Aku tahu istriku ini bukanlah tipe
ustazah, dan aku lihat potensi yang ada padamu adalah ilmu, itulah yang harus
dioptimalkan. Dan kesempatan itu telah terbuka, kau telah memilih jalan menjadi
seorang peneliti, itu yang harus dijalankan. Aku ingin istriku mampu
mengaktualisasikan diri, aku tak mau mengungkungmu, aku ingin engkau maju
sebagaimana aku pun ingin maju. Aku mohon maaf, hingga saat ini belum mampu
memberimu dan anak-anak tempat tinggal. Dan karena itu pula aku tak akan
menghalangimu mengambil jalan untuk mempercepat terwujudnya keinginan itu, aku
takkan menghalangi apapun selama berada
di jalan yang kita yakini kebenarannya. Jangan khawatir dengan prasangka orang
lain, yakinlah pada diri kita sendiri, jangan ragu melangkah” ucapnya sambil
mengelus kepalaku.
”Terima kasih Yah,”, aku tak sanggup berkata lain
kecuali itu. Kupeluk dia sepenuh hatiku. Aku ingin merasa aman dalam rengkuhannya.
”Tenanglah, aku ga bakal buka cabang ko,
setidaknya tidak dalam waktu dekat ini” candanya.
”Huh, selalu gitu deh. Sebel”, aku mencubit
pipinya. Aku paling kesal kalau dia berkata begitu.
”Ya sudah, kita tidur dulu. Sudah malam. Besok aku
antar ke kedutaan ya, mau buat visa kan”, katanya.
”Iya, ayo” sambutku.
Dan begitulah. Waktu terasa berjalan begitu cepat.
Aku berharap waktu kepergianku masih lama lagi dan berharap bahwa waktu itu
tidak akan tiba. Kadang bahkan
sebaliknya, aku berharap waktu itu sudah begitu cepat berlalu sehingga aku
sudah berada kembali di sini, di tempat ini bersama suami dan anak-anakku.
Tanggal 14 Juli, waktu yang kupilih untuk keberangkatan ke Thailand, semakin
dekat. Terasa begitu cepat........Seandainya dapat kuputar waktu, akan kuputar
ia menjadi April 2010, saat perkiraan aku lulus.mmmmmh, berat rasanya. Tapi,
SALAYA...... I WILL COME.
Keyeeen Yuyun :D
BalasHapus