Sepoi angin pendingin terus menelusup, menyeruak kuat helai selimut,
Nafas yang menggumam seakan malas terjaga dari peraduan,
Hingga sosok pesona terindah itu mendekat, semakin dekat, berbisik diantara kedua indera,
Menguntai kalimat aduhai milik Sang Empunya,
Membuat mata terbelalak hebat, mengguncang raga agar segera terjaga,
Duuuuh, tatapan sayu itu, hanya aku yang tahu arti dibalik itu,
Jemari lentiknya, menggelitik, terus mengusik, tanpa tahu berisik,
Putihnya menyadarkan, hamparan sajadah mengingatkan, remang ruang semakin mengsyahdukan, tuturnya mengisyarat,
Oooohh, hampir habis sisa sepertiga malam,
Mulai isyarat terasa semakin kencang,
Nafas yang menggumam seakan malas terjaga dari peraduan,
Hingga sosok pesona terindah itu mendekat, semakin dekat, berbisik diantara kedua indera,
Menguntai kalimat aduhai milik Sang Empunya,
Membuat mata terbelalak hebat, mengguncang raga agar segera terjaga,
Duuuuh, tatapan sayu itu, hanya aku yang tahu arti dibalik itu,
Jemari lentiknya, menggelitik, terus mengusik, tanpa tahu berisik,
Putihnya menyadarkan, hamparan sajadah mengingatkan, remang ruang semakin mengsyahdukan, tuturnya mengisyarat,
Oooohh, hampir habis sisa sepertiga malam,
Mulai isyarat terasa semakin kencang,
"Biiii, bangun ayo bangun, buruan wudhu, bentar lagi adzan subuh...makanya kalo tidur jangan kemalaman, susah banget deh banguninnya..."
-AF, 28102014-

hahahaha.. abinya keblukkk
BalasHapus