Rabu, 10 Desember 2014

Ketika Musim Hujan Tiba

Oleh : Ranti Mardianti
  
Aku sangat suka hari setelah hujan.wangi tanah yang basah,tetes-tetes sisa air hujan yang turun dari pucuk-pucuk pohon dan semburat yg hangat dari sela-sela awan di langit yg makin cerah.

Waktu kuliah dulu aku menyempatkan diri turun dari studio di lantai 4 untuk menikmati saat seperti itu. Sendirian dengan ditemani walkman dan termos kecil. Rasanya menyenangkan dan damai. Menikmati berkah perasaan dari Allah yg tak tergantikan.

Kini, aku masih menyukai saat hujan berakhir, dengan alasan yg berbeda.karena rasa lega akhirnya tendangan,teriakan, dan tangis ketakutan fatih anakku berakhir juga. Ya,di usianya yg lima tahun, dua setengah tahun sejak pertama kali didiagnosa ADD, Fatih masih harus melawan berbagai masalah sensori dan emosi. Salah satunya rasa takut dan khawatir yg berlebihan terhadap suara-suara keras maupun suara yang secara frekuensi khas terhadap sensori audionya. seperti suara blender, palu, anjing, ayam, dan bahkan suara batuk dan bersin tertentu.

Suara petir adalah suara yg paling membuat dia tertekan dan takut. Jadi, dapat dibayangkan musim hujan menjadi musim yg panjang dan tdk terlalu menyenangkan buat dia..dan aku.
Saat khawatir dan takutnya semakin tak terkendali seiring suara petir kian keras, dia akan mulai meronta dan memukul sambil menjerit menangis. Yang bisa aku lakukan saat itu terjadi adalah memeluknya dari belakang karena khawatir dia melukai dirinya sendiri. Itu bukan hal yang mudah karena badan dan tenaga fatih yang cukup besar untuk anak seusianya. Aku pernah setengah berkelakar sama suamiku bahwa mungkin aku harus pakai body protector.
Candaan yang mungkin ada benarnya juga. Karena kadang saat beranjak tidur baru aku sadari ada bilur memar di tangan atau badan karena menahan dia.
Dulu saat nalar fatih masih sederhana, dia hanya mulai takut saat mendengar petir. Kini setelah dia memahami bahwa petir datang bersama hujan, dan hujan diawali dengan mendung, maka sesi ketakutan dia dimulai lebih awal. Saat matahari mulai bersembunyi dari pandangannya, dia pun mulai resah berteriak 'Ibu,matahari sembunyi. Mendung!!' Seluruh syarafnya sontak waspada menanti dgn tegang hal yang paling ditakutinya. Petir. Bahkan suara petir terkecil pun tak luput dari pendengarannya yang kerap berusaha aku alihkan dengan berbagai sumber suara lain.

Dan sesi jerit serta amukan pun dimulai. Terkadang hujan turun terasa begitu lama tanpa ujung dengan petir yg enggan berhenti. Membuat kami lelah secara fisik dan perasaan. Seperti rabu sore itu. Sudah hampir satu jam lebih fatih tdk berhenti menangis dan kadang melayangkan tendangan dan pukulan kemana saja. Aku tahu dia lelah tapi dia belum bisa menghentikan diri Aku tahu dia lelah tapi dia belum bisa menghentikan dirinya sendiri. 'Ibu, kecilin suara petirnya. Fatih ga sukaa..' Serunya dengan suara yg makin parau. 'Ga bisa sayang, tahan aja ya. Bentar lagi selesai. Fatih harus berani dong..' Jawaban yang sama untuk sekian kalinya. Darr..!! Petir bergemuruh lagi. 'Kecilin. Tivi bisa..komputer bisa dikecilin.'Protes dan kekesalan terdengar dari jeritannya.

Ya,logika fatih yang khas. Semua harus konsisten. Bagi dia sejauh ini semua suara ada sumbernya, dan sumber tersebut bisa dikendalikan. Putar tombolnya, jadi kecil. klik buttonnya jadi berhenti. Seharusnya petir pun begitu bukan? Aku pun berusaha menjawab dengan logikanya 'ibu ga bisa kecilin say,ga ada tombolnya.'. Dengan mata penuh harap solusi dia memandangku dan bertanya 'Rusak? Ayah bisa betulin? Ayah betulin. Kecilin petir..Ayah bisa?' Ah,ya. Ayah, the man who fixes everything. Buat fatih ayah itu solusi utk banyak hal yang ibunya tidak bisa atasi. Jadi,kalo ibu ga bisa..pasti ayah lah yang bisa. Aku pun berharap saat itu ada suamiku ikut menemani. Sayangnya kami baru bisa berkumpul saat akhir pekan. Tapi,kalaupun ayah ada anakku, tidaklah mungkin dia bisa kecilkan suara petir itu untukmu. Unfortunately my dear son, it's out of his league.

Dan kecewalah dia dengan jawaban bahwa bahkan ayah pun tidak bisa lakukan itu. Setelah dua jam berteriak dan menangis,saking lelahnya Fatih bergelung dalam pelukan dan kuncian kakiku. Tergugu tanpa suara. Petir hanya sesekali bersuara pelan. Dia mulai tenang dalam lelah. Aku bicara lembut dekat telinganya. 'Fatih, petir itu punyanya Allah. Cuma Allah yang bisa mengecilkan suaranya. Jadi,kalo fatih mau minta kecilin,ya sama Allah. Berdoa sama Allah.

Dari mulut kecilnya lantas terucap kata-kata dengan nada memelas yang tdk pernah aku lupakan 'Ya Allah, 'Ya Allah, fatih cape ya Allah'.Air mataku yang sudah lama tertahan,akhirnya meleleh saat itu. Lelaki kecilku sayang..
Sambil terus memeluk dia aku bisikan ayat-ayat surat kesenangannya.Al-Insyirah. Surat yang kerap kubaca berulang saat menanti kelahiran dia, saat dia dirawat pasca lahir. Surat pertama yang mau dia ikuti baca. Ya, lelahmu pasti akan ada akhirnya.


Esok harinya aku lihat dia meniup banyak gelembung sabun di depan rumah. 'Wah, tinggi sekali ya Fatih,balon sabunnya. Terbang. ' Seruku menyemangati. Dia tersenyum manis dan berkata 'Balon terbang. Ke Allah'. 'Ke Allah?' 'Ke Allah. Mau bilang bawa hujan pergi'. Aku cuma tersenyum. Dalam hati mencoba merangkai jawaban yang pas jika nanti siang hujan dan petir kembali datang. Apakah Allah tdk mendengar permintaan Fatih? Kugenggam tangannya dan pelan-pelan ku katakan 'sayang, Allah senang sekali fatih berdoa. Senang juga Fatih kirim balon-balon sabun. Tapi kalau hari ini atau besok hujan petir lagi, ga apa-apa ya? Itu supaya fatih makin berani.' Ah, fatih belum tentu mengerti kalimat-kalimat itu. Tapi itu jawaban terbaik yang kupunya saat itu. Dan kulihat awan kelabu mulai berkumpul di langit. Well..here we go again...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar