Oleh : Ranti Mardianti
Aku sangat suka hari setelah hujan.wangi
tanah yang basah,tetes-tetes sisa air hujan yang turun dari pucuk-pucuk pohon
dan semburat yg hangat dari sela-sela awan di langit yg makin cerah.
Waktu kuliah dulu aku menyempatkan diri
turun dari studio di lantai 4 untuk menikmati saat seperti itu. Sendirian dengan ditemani walkman dan termos
kecil. Rasanya menyenangkan dan damai. Menikmati berkah perasaan dari Allah yg
tak tergantikan.
Kini, aku masih menyukai
saat hujan berakhir, dengan alasan yg berbeda.karena rasa lega akhirnya
tendangan,teriakan, dan tangis ketakutan fatih anakku berakhir juga. Ya,di
usianya yg lima tahun, dua setengah tahun sejak pertama kali didiagnosa ADD,
Fatih masih harus melawan berbagai masalah sensori dan emosi. Salah satunya
rasa takut dan khawatir yg berlebihan terhadap suara-suara keras maupun suara
yang secara frekuensi khas terhadap sensori audionya. seperti suara
blender, palu, anjing, ayam, dan bahkan suara batuk dan bersin tertentu.
Suara petir adalah suara yg paling membuat
dia tertekan dan takut. Jadi, dapat dibayangkan musim hujan menjadi musim yg
panjang dan tdk terlalu menyenangkan buat dia..dan aku.
Saat khawatir dan takutnya semakin tak
terkendali seiring suara petir kian keras, dia akan mulai meronta dan memukul
sambil menjerit menangis. Yang bisa aku lakukan saat itu terjadi adalah
memeluknya dari belakang karena khawatir dia melukai dirinya sendiri. Itu bukan
hal yang mudah karena badan dan tenaga fatih yang cukup besar untuk anak seusianya.
Aku pernah setengah berkelakar sama suamiku bahwa mungkin aku harus pakai body
protector.
Candaan yang mungkin ada benarnya juga. Karena kadang saat beranjak tidur baru aku sadari
ada bilur memar di tangan atau badan karena menahan dia.
Dulu saat nalar fatih
masih sederhana, dia hanya mulai takut saat mendengar petir. Kini setelah dia
memahami bahwa petir datang bersama hujan, dan hujan diawali dengan mendung,
maka sesi ketakutan dia dimulai lebih awal. Saat matahari mulai bersembunyi dari
pandangannya, dia pun mulai resah berteriak 'Ibu,matahari sembunyi. Mendung!!'
Seluruh syarafnya sontak waspada menanti dgn tegang hal yang paling ditakutinya. Petir. Bahkan suara petir terkecil pun tak luput dari pendengarannya
yang kerap berusaha aku alihkan dengan berbagai sumber suara lain.
Dan sesi jerit serta amukan pun dimulai.
Terkadang hujan turun terasa begitu lama tanpa ujung dengan petir yg enggan
berhenti. Membuat kami lelah secara fisik dan perasaan. Seperti rabu sore itu.
Sudah hampir satu jam lebih fatih tdk berhenti menangis dan kadang melayangkan
tendangan dan pukulan kemana saja. Aku tahu dia lelah tapi dia belum bisa
menghentikan diri Aku tahu dia lelah tapi dia belum bisa menghentikan dirinya
sendiri. 'Ibu, kecilin suara petirnya. Fatih ga sukaa..' Serunya dengan suara yg
makin parau. 'Ga bisa sayang, tahan aja ya. Bentar lagi selesai. Fatih harus
berani dong..' Jawaban yang sama untuk sekian kalinya. Darr..!! Petir
bergemuruh lagi. 'Kecilin. Tivi
bisa..komputer bisa dikecilin.'Protes dan kekesalan terdengar dari jeritannya.
Ya,logika fatih yang khas. Semua harus
konsisten. Bagi dia sejauh ini semua suara ada sumbernya, dan sumber tersebut
bisa dikendalikan. Putar tombolnya, jadi kecil. klik buttonnya jadi berhenti.
Seharusnya petir pun begitu bukan? Aku pun berusaha menjawab dengan logikanya
'ibu ga bisa kecilin say,ga ada tombolnya.'. Dengan mata penuh harap solusi dia
memandangku dan bertanya 'Rusak? Ayah bisa betulin? Ayah betulin. Kecilin
petir..Ayah bisa?' Ah,ya. Ayah, the man who fixes everything. Buat fatih ayah itu solusi utk banyak hal yang ibunya
tidak bisa atasi. Jadi,kalo ibu ga bisa..pasti ayah lah yang bisa. Aku pun
berharap saat itu ada suamiku ikut menemani. Sayangnya kami baru bisa berkumpul
saat akhir pekan. Tapi,kalaupun ayah ada anakku, tidaklah mungkin dia bisa
kecilkan suara petir itu untukmu. Unfortunately my dear son, it's out of his
league.
Dan kecewalah dia dengan jawaban bahwa bahkan
ayah pun tidak bisa lakukan itu. Setelah dua jam berteriak dan menangis,saking
lelahnya Fatih bergelung dalam pelukan dan kuncian kakiku. Tergugu tanpa suara.
Petir hanya sesekali bersuara pelan. Dia mulai tenang dalam lelah. Aku bicara
lembut dekat telinganya. 'Fatih, petir itu punyanya Allah. Cuma Allah yang bisa
mengecilkan suaranya. Jadi,kalo fatih mau minta kecilin,ya sama Allah. Berdoa
sama Allah.
Dari mulut kecilnya lantas terucap
kata-kata dengan nada memelas yang tdk pernah aku lupakan 'Ya Allah, 'Ya Allah,
fatih cape ya Allah'.Air mataku yang sudah lama tertahan,akhirnya meleleh saat
itu. Lelaki kecilku sayang..
Sambil terus memeluk dia aku bisikan
ayat-ayat surat kesenangannya.Al-Insyirah. Surat yang kerap kubaca berulang saat
menanti kelahiran dia, saat dia dirawat pasca lahir. Surat pertama yang mau dia
ikuti baca. Ya, lelahmu pasti akan ada akhirnya.
Esok harinya aku lihat
dia meniup banyak gelembung sabun di depan rumah. 'Wah, tinggi sekali ya
Fatih,balon sabunnya. Terbang. ' Seruku menyemangati. Dia tersenyum manis dan
berkata 'Balon terbang. Ke Allah'. 'Ke Allah?' 'Ke
Allah. Mau bilang bawa hujan pergi'. Aku cuma tersenyum. Dalam hati mencoba
merangkai jawaban yang pas jika nanti siang hujan dan petir kembali datang.
Apakah Allah tdk mendengar permintaan Fatih? Kugenggam tangannya dan
pelan-pelan ku katakan 'sayang, Allah senang sekali fatih berdoa. Senang juga
Fatih kirim balon-balon sabun. Tapi kalau hari ini atau besok hujan petir lagi, ga
apa-apa ya? Itu supaya fatih makin berani.' Ah, fatih belum tentu mengerti
kalimat-kalimat itu. Tapi itu jawaban terbaik yang kupunya saat itu. Dan kulihat awan
kelabu mulai berkumpul di langit. Well..here we go again...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar