Kamis, 18 Desember 2014

Gempita di Dakota

oleh: Erma Yulihastin 

“Gang itu pengap dan gelap, meski sebenarnya matahari tengah bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka dua belas tepat. Bisa diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos rumah-rumah itu untuk menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di sana sehingga gang itu tak ubahnya sebuah gua gulita...”

Telah resmi kepindahan kami di rumah kontrakan yang baru sejak Jumat, 9 Januari 2009. Kami telah memulai malam pertama di rumah baru kami pada malam Sabtu kemarin. Kami merasa lega kini, meskipun badan remuk redam --karena tiap pagi kami memindahkan barang-barang ke rumah baru ini selama lima hari berturut-turut.

Rumah Simpel Minimalis
Rumah kontrakan yang baru kami jelas jauh lebih baik keadaannya dibandingkan kontrakan kami sebelumnya di Sukagalih. Rumah kami yang sekarang adalah rumah yang baru selesai dibangun dan belum sempat dihuni pemiliknya. Modelnya minimalis, sederhana tapi cantik sekali. Cat rumahnya perpaduan abu-abu dan hitam. Sementara cat di dalam rumahnya merupakan paduan antara kuning muda pucat dan cokelat tua. Manis betul.

Bangunannya simpel, tidak banyak ornamen, sehingga kami pun menyesuaikan diri  menyelaraskan rumah ini dengan barang-barang kami yang juga simpel (atau lebih tepatnya) ala kadarnya. Untuk menyambut rumah mungil dan indah kami ini, kami membeli rak buku segiempat tiga tingkat yang berwarna cokelat muda. Barang ini sangat berguna untuk mewadahi banyak sekali buku, tape, dan beberapa mainan milik Sekar, supaya terkesan lebih rapi dan mencegahnya beredar di sana-sini. Rak yang lebarnya semeter dan tinggi sekitar semeter setengah ini dibeli dengan harga cuma Rp 299 ribu.

Barang kedua yang kami beli adalah satu set meja makan dengan empat kursi. Bahan kursinya terdiri atas aluminium ringan dan kayu yang juga ringan. Mejanya terdiri dari kayu cokelat muda disangga empat batang aluminium ringan yang memberi kesan lapang sehingga memperluas ruangan. Seperangkat meja makan ini kami beli dengan harga murah untuk zaman krisis saat ini: Rp 545 ribu.

Makan di meja makan adalah furniture impian kami yang sempat tertunda hingga enam tahun setelah menikah. Bahkan di rumah kami di Gunung Putri Bogor pun, kami tidak memiliki kursi untuk makan. Yang ada hanyalah meja sederhana yang kami sulap sebagai meja makan, meskipun kondisi mejanya jauh dari membanggakan jika disebut sebagai meja makan (meja itu hanya sebuah meja murahan yang digarap kasar dan diwarnai ala kadarnya dengan warna biru muda menyolok yang tidak rata).

Saya ngotot ingin membeli seperangkat meja makan untuk mengajarkan kepada anak saya makan secara madiri pada waktu dan tempat yang tepat (di meja makan) bukan di atas kasur, bukan sambil bermain dan berlarian kesana-kemari, juga bukan sambil berlompatan di luar rumah.

Furniture yang Sederhana
Sejak menikah memang kami tidak pernah membeli furniture yang mahal-mahal. Kami hidup sesederhana mungkin sebagai pasangan keluarga muda, dan lebih gemar mengoleksi buku daripada membeli rak atau bufet berkaca yang setiap tahun selalu berganti model.

Satu-satunya barang mahal di rumah kami adalah sofa multiguna yang bisa disulap sebagai kasur, yang kami beli sekitar Rp 900 ribu. Itu pun dibeli karena motivasi sedikit terdesak ketika mertua mau berkunjung ke rumah baru kami, sementara kami hanya memiliki satu kasur yang terhampar di atas lantai tanpa dipan. Saat itu kami juga tidak memiliki sofa atau kursi apapun di ruang tamu. Akhirnya, kami pun membeli sofa multiguna, yang bisa dipakai duduk tapi juga bisa disulap untuk tidur jika ada tamu bertandang.

Selanjutnya, setelah dua tahun menempati rumah baru, kami pun membeli semacam spring bed yang melekat pada dipannya langsung, harganya sekitar Rp 400 ribu (lebih murah dari sofa). Dan, sesuai dengan harganya tentu, tempat tidur itu kini kasurnya terasa kasar, karena ada beberapa kawat di bagian tengah yang memburai di sana-sini. Selain itu, permukaan kasur tidak rata, cekung di bagian tengah, jika kami pakai tidur. Keadaan ini membuat punggung kami terasa sakit, tapi kami tetap tidur di atasnya selama lebih dari tiga tahun lamanya, sampai sekarang, tanpa sedikit pun berpikir hendak membeli kasur dan dipan yang jauh lebih baik.

Dari Gua menuju Rumah
Kembali ke rumah kontrakan baru, lingkungan rumah (karena di perumahan) jauh lebih sepi dibandingkan dengan kontrakan lama. Udara di sini jauh lebih sejuk karena udara yang bertiup tidak terhalang oleh bangunan yang penuh sesak dan berdempet-dempetan seperti kontrakan kami sebelumnya.

Yang lebih menggembirakan lagi, di sini tidak ada got-got yang mengalir terbuka, tidak ada tikus-tikus got yang berkeliaran, tidak ada bau got yang memuakkan, dan udara yang kami hirup tidak lagi terperangkap oleh bau masakan berminyak yang bercampur dengan busuknya got.

Pada kontrakan sebelumnya, jalan menuju rumah kami harus memasuki gang yang sempit, di mana di kiri dan kanan rumah berdempetan rumah penduduk yang atap-atapnya saling bertindihan satu sama lain, sehingga mirip sebuah gorong-gorong, di mana kita harus berhati-hati mendongak ke atas, karena mata kita dapat tertimpa air tetesan jemuran, atau bahkan air bekas jemuran yang diguyurkan saja sekenanya oleh ibu-ibu yang menjemur di atas rumah mereka. Agar aman, sebaiknya kita melewati gang tersebut seraya berlari atau berlindung di bawah payung agar kepala tidak basah oleh “hujan lokal”.

Gang itu pengap dan gelap, meski sebenarnya matahari tengah bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka dua belas tepat. Bisa diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos rumah-rumah itu untuk menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di sana sehingga gang itu tak ubahnya sebuah gua gulita yang hanya diterangi sedikit pendaran cahaya lampu berjarak tiga kilometer dari gua. Yang lebih memilukan dan mungkin dapat membuat sebagian orang merinding adalah, persis di samping timur rumah itu terdapat kuburan yang cukup luas dan terlihat jelas tanpa dipisahkan oleh tembok tinggi seperti area makam pada umumnya.

Rumah kami di situ pun, tak lebih baik keadaannya dibandingkan gang menuju ke sana. Rumah tersebut memiliki dua kamar yang luasnya 2X2 meter, dengan jendela masing-masing menuju ke ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang tamu. Karena ditutupi oleh rumah-rumah berdempet yang lebih tinggi, dan gang yang mirip gua itu, maka berada dalam rumah pun rasanya seperti berada di dalam gua.

Apalagi jika berada di dalam kamar. Rasanya pengap dan benar-benar gelap tanpa ada setitik pun terang, sehingga kami harus selalu menyalakan lampu supaya dapat melihat meskipun saat itu bisa jadi, di luar sana matahari sedang terik-teriknya. Jika berada di dalam kamar, kami merasa seakan-akan berada di dalam gua yang ada di dalam gua dan ada di dalam gua lagi. Gelap yang bertindih-tindih.

Alhamdulillah, di rumah kontrakan baru kami, cahaya terang menerobos masuk dengan mudahnya. Kamarnya lebih besar-besar ukurannya 3X3 dan 2X3 meter. Setiap kamar memiliki jendela yang langsung melongok ke alam bebas, tidak terhalang oleh dinding rumah orang.

Di luar itu semua, kami merasa hidup bahagia dengan kesederhanaan, tanpa televisi (yang bisa meracuni Sekar dan melalaikan saya), tanpa kulkas, tanpa mesin cuci. Kami tidur di bawah dengan kasur tipis sehingga kadang punggung kami merasakan betul dinginnya lantai. Saya jadi ingat nasihatnya Hasan Al-Banna dalam Risalah Pergerakan I : “jadilah kalian manusia-manusia yang hidup secukupnya dengan betul-betul mengirit, sehingga harta kalian lebih banyak diinfakkan di jalan Allah.”

Semoga, rumah kontrakan baru kami ini memiliki keberkahan yang lebih banyak dan dapat mengantarkan penghuninya menjadi manusia-manusia soleh yang semakin taat pada Agama dan lebih banyak bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

(Dakota, 11 Januari 2009) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar