oleh: Erma Yulihastin
“Gang itu pengap dan gelap, meski sebenarnya matahari tengah
bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka dua belas tepat. Bisa
diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos rumah-rumah itu untuk
menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di sana sehingga gang itu
tak ubahnya sebuah gua gulita...”
Telah resmi kepindahan kami di rumah
kontrakan yang baru sejak Jumat, 9 Januari 2009. Kami telah memulai malam
pertama di rumah baru kami pada malam Sabtu kemarin. Kami merasa lega kini,
meskipun badan remuk redam --karena tiap pagi kami memindahkan barang-barang ke
rumah baru ini selama lima hari berturut-turut.
Rumah Simpel Minimalis
Rumah kontrakan yang baru kami jelas
jauh lebih baik keadaannya dibandingkan kontrakan kami sebelumnya di Sukagalih.
Rumah kami yang sekarang adalah rumah yang baru selesai dibangun dan belum
sempat dihuni pemiliknya. Modelnya minimalis, sederhana tapi cantik sekali. Cat
rumahnya perpaduan abu-abu dan hitam. Sementara cat di dalam rumahnya merupakan
paduan antara kuning muda pucat dan cokelat tua. Manis betul.
Bangunannya simpel, tidak banyak
ornamen, sehingga kami pun menyesuaikan diri menyelaraskan rumah ini
dengan barang-barang kami yang juga simpel (atau lebih tepatnya) ala kadarnya.
Untuk menyambut rumah mungil dan indah kami ini, kami membeli rak buku
segiempat tiga tingkat yang berwarna cokelat muda. Barang ini sangat berguna
untuk mewadahi banyak sekali buku, tape, dan beberapa mainan milik Sekar,
supaya terkesan lebih rapi dan mencegahnya beredar di sana-sini. Rak yang
lebarnya semeter dan tinggi sekitar semeter setengah ini dibeli dengan harga
cuma Rp 299 ribu.
Barang kedua yang kami beli adalah
satu set meja makan dengan empat kursi. Bahan kursinya terdiri atas aluminium
ringan dan kayu yang juga ringan. Mejanya terdiri dari kayu cokelat muda
disangga empat batang aluminium ringan yang memberi kesan lapang sehingga memperluas
ruangan. Seperangkat meja makan ini kami beli dengan harga murah untuk zaman
krisis saat ini: Rp 545 ribu.
Makan di meja makan adalah furniture
impian kami yang sempat tertunda hingga enam tahun setelah menikah. Bahkan di
rumah kami di Gunung Putri Bogor pun, kami tidak memiliki kursi untuk makan.
Yang ada hanyalah meja sederhana yang kami sulap sebagai meja makan, meskipun
kondisi mejanya jauh dari membanggakan jika disebut sebagai meja makan (meja
itu hanya sebuah meja murahan yang digarap kasar dan diwarnai ala kadarnya
dengan warna biru muda menyolok yang tidak rata).
Saya ngotot ingin membeli
seperangkat meja makan untuk mengajarkan kepada anak saya makan secara madiri
pada waktu dan tempat yang tepat (di meja makan) bukan di atas kasur, bukan
sambil bermain dan berlarian kesana-kemari, juga bukan sambil berlompatan di
luar rumah.
Furniture yang Sederhana
Sejak menikah memang kami tidak
pernah membeli furniture yang mahal-mahal. Kami hidup sesederhana mungkin
sebagai pasangan keluarga muda, dan lebih gemar mengoleksi buku daripada
membeli rak atau bufet berkaca yang setiap tahun selalu berganti model.
Satu-satunya barang mahal di rumah
kami adalah sofa multiguna yang bisa disulap sebagai kasur, yang kami beli
sekitar Rp 900 ribu. Itu pun dibeli karena motivasi sedikit terdesak ketika
mertua mau berkunjung ke rumah baru kami, sementara kami hanya memiliki satu
kasur yang terhampar di atas lantai tanpa dipan. Saat itu kami juga tidak
memiliki sofa atau kursi apapun di ruang tamu. Akhirnya, kami pun membeli sofa
multiguna, yang bisa dipakai duduk tapi juga bisa disulap untuk tidur jika ada
tamu bertandang.
Selanjutnya, setelah dua tahun
menempati rumah baru, kami pun membeli semacam spring bed yang melekat pada
dipannya langsung, harganya sekitar Rp 400 ribu (lebih murah dari sofa). Dan,
sesuai dengan harganya tentu, tempat tidur itu kini kasurnya terasa kasar,
karena ada beberapa kawat di bagian tengah yang memburai di sana-sini. Selain
itu, permukaan kasur tidak rata, cekung di bagian tengah, jika kami pakai
tidur. Keadaan ini membuat punggung kami terasa sakit, tapi kami tetap tidur di
atasnya selama lebih dari tiga tahun lamanya, sampai sekarang, tanpa sedikit
pun berpikir hendak membeli kasur dan dipan yang jauh lebih baik.
Dari Gua menuju Rumah
Kembali ke rumah kontrakan baru,
lingkungan rumah (karena di perumahan) jauh lebih sepi dibandingkan dengan
kontrakan lama. Udara di sini jauh lebih sejuk karena udara yang bertiup tidak
terhalang oleh bangunan yang penuh sesak dan berdempet-dempetan seperti
kontrakan kami sebelumnya.
Yang lebih menggembirakan lagi, di
sini tidak ada got-got yang mengalir terbuka, tidak ada tikus-tikus got yang
berkeliaran, tidak ada bau got yang memuakkan, dan udara yang kami hirup tidak
lagi terperangkap oleh bau masakan berminyak yang bercampur dengan busuknya
got.
Pada kontrakan sebelumnya, jalan
menuju rumah kami harus memasuki gang yang sempit, di mana di kiri dan kanan
rumah berdempetan rumah penduduk yang atap-atapnya saling bertindihan satu sama
lain, sehingga mirip sebuah gorong-gorong, di mana kita harus berhati-hati
mendongak ke atas, karena mata kita dapat tertimpa air tetesan jemuran, atau
bahkan air bekas jemuran yang diguyurkan saja sekenanya oleh ibu-ibu yang
menjemur di atas rumah mereka. Agar aman, sebaiknya kita melewati gang tersebut
seraya berlari atau berlindung di bawah payung agar kepala tidak basah oleh
“hujan lokal”.
Gang itu pengap dan gelap, meski
sebenarnya matahari tengah bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka
dua belas tepat. Bisa diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos
rumah-rumah itu untuk menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di
sana sehingga gang itu tak ubahnya sebuah gua gulita yang hanya diterangi
sedikit pendaran cahaya lampu berjarak tiga kilometer dari gua. Yang lebih
memilukan dan mungkin dapat membuat sebagian orang merinding adalah, persis di
samping timur rumah itu terdapat kuburan yang cukup luas dan terlihat jelas
tanpa dipisahkan oleh tembok tinggi seperti area makam pada umumnya.
Rumah kami di situ pun, tak lebih
baik keadaannya dibandingkan gang menuju ke sana. Rumah tersebut memiliki dua
kamar yang luasnya 2X2 meter, dengan jendela masing-masing menuju ke ruang
tengah yang sekaligus menjadi ruang tamu. Karena ditutupi oleh rumah-rumah
berdempet yang lebih tinggi, dan gang yang mirip gua itu, maka berada dalam
rumah pun rasanya seperti berada di dalam gua.
Apalagi jika berada di dalam kamar.
Rasanya pengap dan benar-benar gelap tanpa ada setitik pun terang, sehingga kami
harus selalu menyalakan lampu supaya dapat melihat meskipun saat itu bisa jadi,
di luar sana matahari sedang terik-teriknya. Jika berada di dalam kamar, kami
merasa seakan-akan berada di dalam gua yang ada di dalam gua dan ada di dalam
gua lagi. Gelap yang bertindih-tindih.
Alhamdulillah, di rumah kontrakan
baru kami, cahaya terang menerobos masuk dengan mudahnya. Kamarnya lebih
besar-besar ukurannya 3X3 dan 2X3 meter. Setiap kamar memiliki jendela yang
langsung melongok ke alam bebas, tidak terhalang oleh dinding rumah orang.
Di luar itu semua, kami merasa hidup
bahagia dengan kesederhanaan, tanpa televisi (yang bisa meracuni Sekar dan
melalaikan saya), tanpa kulkas, tanpa mesin cuci. Kami tidur di bawah dengan
kasur tipis sehingga kadang punggung kami merasakan betul dinginnya lantai.
Saya jadi ingat nasihatnya Hasan Al-Banna dalam Risalah Pergerakan I : “jadilah
kalian manusia-manusia yang hidup secukupnya dengan betul-betul mengirit,
sehingga harta kalian lebih banyak diinfakkan di jalan Allah.”
Semoga, rumah kontrakan baru kami
ini memiliki keberkahan yang lebih banyak dan dapat mengantarkan penghuninya
menjadi manusia-manusia soleh yang semakin taat pada Agama dan lebih banyak
bermanfaat untuk masyarakat sekitar.
(Dakota, 11 Januari 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar