Sabtu, 13 Desember 2014

Extraordinary


oleh : Yuyun

'Kupersembahkan untuk para ibu yang sedang berjuang, terpisah jarak dan waktu dengan para buah hatinya....' 

Pekan ini terasa berat, banyak hal yang harus dipikirkan dan banyak hal yang menyita perhatian.
Masih beruntung ahad, 28 Juni kemaren aku masih sempet ”ngabur” sama temen-temen ngaji chan ke Khao Yai, sebuah national park. Saat itu kuhirup segarnya udara di alam, kesejukan alam, cantiknya air terjun Heaw Narok, percikannya yang membasahi wajahku dan aku mencoba relaks di tengah tumpukan revisi proposal yang kurasa arahnya mulai makin ga jelas. Hehehe. Eh ngga nyangka, saat sedang menikmati makan siang, temenku nelpon nanyain apa aku akan ke kampus ngga. Walaaah, dalam posisis ratusan kilometer dari Salaya....tidaaaak. Rupanya ajarn mayor advisorku menanyakan kenapa aku tidak datang untuk bimbingan. Oh tidaaaaakk, aku ga ada janji ko. Dan lagipula sengaja, ngaburr. Fuih
Ketegangan berlanjut dengan jadwal sidang suamiku, sepertinya asam lambungku meningkat, dan aku mulai kelebihan gas lambung. Suamiku sidang tesis selasa jam 6 malam dan hingga terakhir pukul 2.30 aku telpon selalu memberi jawaban sama: ”masih nge print”. Padahal aku telpon hampir tiap 30 menit sejak jam 12.30. hhhh akhirnya aku ga telpon lagi, sampe jam 8.30-an sms muncul di tengah tidurku, kecapean.... menyatakan : ”Yang aku dah Msi, tp dengan perbaikan”. Aku tak respon hingga muncul lagi sms sejam kemudian : ”Say, aku lulus. Makasih atas dukunganmu”..............Alhamdulillah
Menjelang subuh harinya aku dapat berita, si kecil Hanun mencret-mencret, memasuki hari kedua. Hmmm, mulai lagi deh episode tegangnya, padahal aku harus siapin proposal dan presentasi untuk rehearsal hari kamis 2 Juli. Trauma??? Jelas karena si sulung Najya pernah dirawat karena diare akut saat berusia 1 tahun, dan si kecil Hanun ini punya riwayat alergi susu sapi, baru 4 bulanan ini diberi susu sapi full, sebelumnya kami pake campuran susu kedelai Isomil dan Bendera atau Dancow. Susu kedelai yang kami pakai harganya sudah berlipat-lipat, sekaleng susu ini mungkin setara dengan 3 kaleng susu yang satunya, mengganti dengan susu sapi adalah cara tepat untuk memangkas pengeluaran untuk beli susu.
Dan sekarang diare.....kenapa ya. Pikiranku mulai kacau, alerginya kumat ataukah infeksi bakteri, ataukah jamur??? Siangnya aku telpon ke si bibi, katanya hanun susah mau makannya, dan mulai lemes.
Kamis subuh aku chat dengan si kasep suamiku, katanya hanun masih mencret....berarti memasuki hari ketiga. Aku langsung bilang, hari ini kl dia ee, harus diwadahin ee-nya dan langsung dibawa ke RS. Dah ga bisa ditunggu lagi. Anaknya tentu ga mau lahh.
Saat itu aku sempat telpon si dede, dia masih nyerocos bilang : ”unda, anun cecet. Unda kapan cih ulangnya? Lama. Anun mau beli endal, ayeng-ayeng nini.” (Terjemahan : bunda, hanun mencret. Bunda kapan sih pulangnya, lama? Hanun mau beli sendal, tapi bareng-bareng di sini)
Dan siang tadi tepat setelah rehearsal sidang, kuterima berita : ”hanun dirawat inap saja”.
Hhhhmmm, this is not the first time for her. Both of my children have ever been hospitalized. Selama aku berada di Thailand, ini kali kedua kejadian anak dirawat. Januari kemarin saat aku baru pulang dari Chiang Mai, Mba Najya dirawat karena DB.
Dan sekarang kejadian lagi. Means 4 kali sudah 2 anakku dirawat :
Najya : saat 1 tahun karena diare, dan 5 tahun krn DB
Hanun : saat 1,5 tahun karena DB dan 3,5 tahun karena diare
What’s wrong?????
Aku mencoba mengelus dada, dan mengingatkan diri : sabar yang paling berat adalah saat pertama kali mengalami musibah atau ujian.....
Sedikit panik, aku berniat menelpon langsung ke Indonesia dan menghubungi ibuku di Bandung agar bisa datang ke Depok. Di tangga aku bertemu Haksym, ”the Son”.
Dia bilang : ”Mother, where are you going”
Aku bilang dengan cemas: “I need to buy credit for my phone, hhhm I need to call my family, my daughter is being hospitalized.”
Dia bilang : “Oh that is good, she is in hospital now”
Aku bilang : “ you make me laugh, why you give an unexpected statement like that?”
Dia bilang : “It’s a kind of Cambodian joke”
Lalu dia pun nyerocos cerita tentang kisah yang agak lucu, anak satu ini kalo dah nyerocos, hmm never full stop, dan setiap ketawa matanya menghilang. Hahaha
 INI PELAJARAN PERTAMA…BEING HOSPITALIZED IS GOOD.
Aku jadi berpikir, iya ya, kenapa aku malah tambah panik, bukannya kalo dah dirawat berarti dia lebih terawasi. Hhhm, we are living in an era of biomedical hegemony, illness never be without hospital/doctor and cure never be without medicine. Critical Medical Antropologi banget.
Singkat cerita aku kembali ke common room, suamiku mengirim foto hanun di RS dengan infus di tangan dan muka yang sedih, mata yang sedikit cekung dan merah. Aku tercenung melihatnya, hingga si Amara melihatku dan aku pun bercerita. Akhirnya aku menangis, ketika tiba-tiba Cambodian lain, si San (nama lengkapnya Meas Kimsan, tapi aku plesetin jadi MSM Kimsan, karena area of interest bapak satu ini Cuma satu hal : MSM) berkata : ”Hey Yuyun you should not worry, you are here not for having fun, you are here for struggling, for your children’s future also, for their good. We are so suffering here, study hard, so hard”.
Hmmm, INI PELAJARAN KEDUA....THIS IS MY CHOICE ALSO AND I AM HERE NOT FOR FUN, iya juga ya.
Lalu seorang teteh, kakak kelasku mengirim message di YM, chatting. Bertanya anakku sakit apa dll. Saat aku bilang perasaanku lagi campur aduk, ga karuan, dia bilang :
”Yuyun yang tenang. Wajar kalo khawatir mah, justru kalo ngga saya malah yang khawatir, perlu konsultasi ke dokter jiwa malah”
wekeke, aku jadi  ketawa.
PELAJARAN KETIGA : KHAWATIR ITU WAJAR, KALO NGGA, MUNGKIN ADA MASALAH KEJIWAAN, MASA SEORANG IBU NGGA KHAWATIR JIKA BERADA DALAM KONDISI SEPERTI DIRIKU.

Saat aku baca komentar pada status FB ku yang sudah dipasang : worry, my daughter is being hospitalized....pray for her. I love you daughter, sorry for being so far from you. I'll be back honey

Dini teman Thai-ku menulis : don't worry, your husband is great, he can handle it.

PELAJARAN KEEMPAT : MY HUSBAND IS GREAT…YESS.

Ya, kupikir suamiku luar biasa dan keluargaku luar biasa. Meskipun tak luput dari segala kekurangannya, namun suamiku adalah extraordinary people, seorang suami yang selalu mendukung agar aku belajar dan belajar, sampe S3 atau S4. Seorang suami yang rela berjauhan dengan istrinya, dan harus berjuang dengan multiperan menjadi bapak, menjadi pekerja dan juga menjadi mahasiswa.  Kadang aku lupa itu semua. Thank you Dini, thank you for remind me.

Akhirnya aku bertemu ajarn ku, mayor advisorku, untuk membahas kelanjutan proposalku setelah mengalami banyak kritik saat rehearsal. Di akhir aku mengungkapkan perasaanku…

“Ajarn, my daughter is sick and being hospitalized. I really can not concentrate now. I am so worry.”

Lalu aku cerita sedikit tentang kondisinya. Lalu aku bilang bahwa si keci hanun bertanya kapan aku akan pulang. Ajarn ku yang satu ini memang antropolog banget, seorang yang sangat toleran, memahami dan sabar. Kadang-kadang kelewatan sabar katanya. Dia berkata dan menghiburku.

Don’t worry, tell her that you’ll go back soon, very soon.

 


Salaya, 3 Juli. 00.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar