oleh : Yuyun
'Kupersembahkan untuk para ibu yang sedang berjuang, terpisah jarak dan waktu dengan para buah hatinya....'
Pekan ini terasa berat, banyak
hal yang harus dipikirkan dan banyak hal yang menyita perhatian.
Masih beruntung ahad, 28 Juni
kemaren aku masih sempet ”ngabur” sama temen-temen ngaji chan ke Khao Yai,
sebuah national park. Saat itu kuhirup segarnya udara di alam, kesejukan alam, cantiknya
air terjun Heaw Narok, percikannya yang membasahi wajahku dan aku mencoba
relaks di tengah tumpukan revisi proposal yang kurasa arahnya mulai makin ga
jelas. Hehehe. Eh ngga nyangka, saat sedang menikmati makan siang, temenku
nelpon nanyain apa aku akan ke kampus ngga. Walaaah, dalam posisis ratusan
kilometer dari Salaya....tidaaaak. Rupanya ajarn mayor advisorku menanyakan
kenapa aku tidak datang untuk bimbingan. Oh tidaaaaakk, aku ga ada janji ko.
Dan lagipula sengaja, ngaburr. Fuih
Ketegangan berlanjut dengan
jadwal sidang suamiku, sepertinya asam lambungku meningkat, dan aku mulai
kelebihan gas lambung. Suamiku sidang tesis selasa jam 6 malam dan hingga
terakhir pukul 2.30 aku telpon selalu memberi jawaban sama: ”masih nge print”.
Padahal aku telpon hampir tiap 30 menit sejak jam 12.30. hhhh akhirnya aku ga
telpon lagi, sampe jam 8.30-an sms muncul di tengah tidurku, kecapean....
menyatakan : ”Yang aku dah Msi, tp dengan
perbaikan”. Aku tak respon hingga muncul lagi sms sejam kemudian : ”Say, aku lulus. Makasih atas dukunganmu”..............Alhamdulillah
Menjelang subuh harinya aku
dapat berita, si kecil Hanun mencret-mencret, memasuki hari kedua. Hmmm, mulai
lagi deh episode tegangnya, padahal aku harus siapin proposal dan presentasi
untuk rehearsal hari kamis 2 Juli. Trauma??? Jelas karena si sulung Najya
pernah dirawat karena diare akut saat berusia 1 tahun, dan si kecil Hanun ini
punya riwayat alergi susu sapi, baru 4 bulanan ini diberi susu sapi full, sebelumnya
kami pake campuran susu kedelai Isomil dan Bendera atau Dancow. Susu kedelai
yang kami pakai harganya sudah berlipat-lipat, sekaleng susu ini mungkin setara
dengan 3 kaleng susu yang satunya, mengganti dengan susu sapi adalah cara tepat
untuk memangkas pengeluaran untuk beli susu.
Dan sekarang diare.....kenapa
ya. Pikiranku mulai kacau, alerginya kumat ataukah infeksi bakteri, ataukah
jamur??? Siangnya aku telpon ke si bibi, katanya hanun susah mau makannya, dan
mulai lemes.
Kamis subuh aku chat dengan si
kasep suamiku, katanya hanun masih mencret....berarti memasuki hari ketiga. Aku
langsung bilang, hari ini kl dia ee, harus diwadahin ee-nya dan langsung dibawa
ke RS. Dah ga bisa ditunggu lagi. Anaknya tentu ga mau lahh.
Saat itu aku sempat telpon si
dede, dia masih nyerocos bilang : ”unda,
anun cecet. Unda kapan cih ulangnya? Lama. Anun mau beli endal, ayeng-ayeng
nini.” (Terjemahan : bunda, hanun mencret. Bunda kapan sih pulangnya, lama?
Hanun mau beli sendal, tapi bareng-bareng di sini)
Dan siang tadi tepat setelah
rehearsal sidang, kuterima berita : ”hanun
dirawat inap saja”.
Hhhhmmm, this is not the first time for her. Both of my children have ever been
hospitalized. Selama aku berada di Thailand, ini kali kedua kejadian anak
dirawat. Januari kemarin saat aku baru pulang dari Chiang Mai, Mba Najya
dirawat karena DB.
Dan sekarang kejadian lagi.
Means 4 kali sudah 2 anakku dirawat :
Najya : saat 1 tahun karena
diare, dan 5 tahun krn DB
Hanun : saat 1,5 tahun karena
DB dan 3,5 tahun karena diare
What’s wrong?????
Aku mencoba mengelus dada, dan
mengingatkan diri : sabar yang paling berat adalah saat pertama kali mengalami
musibah atau ujian.....
Sedikit panik, aku berniat
menelpon langsung ke Indonesia dan menghubungi ibuku di Bandung agar bisa datang
ke Depok. Di tangga aku bertemu Haksym, ”the Son”.
Dia bilang : ”Mother,
where are you going”
Aku bilang dengan cemas: “I need to buy credit for my phone, hhhm I need to call my family, my
daughter is being hospitalized.”
Dia bilang : “Oh
that is good, she is in hospital now”
Aku bilang : “ you
make me laugh, why you give an unexpected statement like that?”
Dia bilang : “It’s
a kind of Cambodian joke”
Lalu dia pun nyerocos cerita tentang kisah yang agak
lucu, anak satu ini kalo dah nyerocos, hmm never full stop, dan setiap ketawa
matanya menghilang. Hahaha
INI PELAJARAN
PERTAMA…BEING HOSPITALIZED IS GOOD.
Aku jadi berpikir, iya ya, kenapa aku malah tambah
panik, bukannya kalo dah dirawat berarti dia lebih terawasi. Hhhm, we are
living in an era of biomedical hegemony, illness never be without
hospital/doctor and cure never be without medicine. Critical Medical
Antropologi banget.
Singkat cerita aku kembali ke common room, suamiku
mengirim foto hanun di RS dengan infus di tangan dan muka yang sedih, mata yang
sedikit cekung dan merah. Aku
tercenung melihatnya, hingga si Amara melihatku dan aku pun bercerita. Akhirnya
aku menangis, ketika tiba-tiba Cambodian lain, si San (nama lengkapnya Meas
Kimsan, tapi aku plesetin jadi MSM Kimsan, karena area of interest bapak satu
ini Cuma satu hal : MSM) berkata : ”Hey
Yuyun you should not worry, you are here not for having fun, you are here for
struggling, for your children’s future also, for their good. We are so suffering here,
study hard, so hard”.
Hmmm, INI PELAJARAN KEDUA....THIS IS MY CHOICE ALSO AND
I AM HERE NOT FOR FUN, iya juga ya.
Lalu seorang teteh, kakak kelasku mengirim message di
YM, chatting. Bertanya anakku sakit apa dll. Saat aku bilang perasaanku lagi campur aduk, ga
karuan, dia bilang :
”Yuyun yang tenang. Wajar kalo khawatir mah, justru kalo ngga saya malah
yang khawatir, perlu konsultasi ke dokter jiwa malah”
wekeke, aku jadi ketawa.
PELAJARAN KETIGA : KHAWATIR
ITU WAJAR, KALO NGGA, MUNGKIN ADA MASALAH KEJIWAAN, MASA SEORANG IBU NGGA
KHAWATIR JIKA BERADA DALAM KONDISI SEPERTI DIRIKU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar