Sabtu, 13 Desember 2014

Mujahid

(Tentang Sebuah Arti Kehidupan)
oleh: Latu Har Hary

Hari sudah larut saat aku sampai di rumah. Kudapati istriku membukakan pintu untukku. Ada kuyu di wajahnya, mungkin ia kelelahan karena jelang 36 minggu kehamilannya masih harus beraktivitas padat. Maklum jelang pilkada walikota kali ini,benar-benar menyita waktunya sebagai ketua kewanitaan sebuah partai Islam. Kusambut uluran tangannya yang hendak menyalamiku. Innalillahi…aku terkejut, tangannya panas sekali.
"Badan ummi panas,Bi.." Katanya menjawab kecemasanku.
Aku menghela napas...istriku ini memang bandel. Sebenarnya aku sudah tak mengizinkannya beraktivitas lagi, tapi dia tetap ngotot harus mengisi kajian tadi pagi dengan alasan tak ada orang yang menggantikan. Sebagai suami yang faham amanah istri,terpaksa aku mengizinkannya dengan catatan ini hari terakhir dia keluar rumah.
4 hari sudah istriku terbaring di tempat tidur, aku mulai khawatir dengannya. Akhirnya aku mengajaknya periksa ke dokter.
"Kalau panas dansakit kepalanya tidak hilang, dua hari ke depan,periksa darah ya bu.." Saran dokter di akhir pemeriksaannya. Alhamdulillah esoknya,sakit kepala istriku sudah tak terasa, jadi tak perlu cek darah,pikirku. Aku pun mengultimatum istriku untuk benar-benar ‘libur’ dari aktivitasnya.
Kulihat swiss army-ku, ternyata waktu sudah menunjukkan jam 11.00 malam, ketika aku sampai dirumah.
“Hmm, sudah lumayan larut,” gumamku. Kulihat bidadariku sudah terlelap dalam mimpinya.
Rasa kantuk pun sudah mulai menyerangku saat tiba-tiba istriku berteriak. "Bi,ada darah...!" Sontak aku terlonjak dari dudukku dan dengan gerakan kilat aku menuju kamar dimana istriku berada. "Kayanya ummi mau lahiran deh,bi...perut ummi mules.."Katanya,meringis.
Bersama istri kusiapkan perlengkapan yang akan dibawa.bersyukur ibuku belum tidur,sehingga aku bisa menitipkan si sulung. Segera aku telepon klinik bersalin yang tidak terlalu jauh dari rumah,untuk mengirimkan ambulan (yang sebelumnya sudah pernah dipesan).dan sambil menahan sakit,istriku pun menelepon teman ngaji sekaligus dokter kandungannya.selesai telepon ia memberitahuku untuk membatalkan ambulan. ‘Bunda’ (panggilan yang biasa diberikan kepada dokter kandungannya) berpesan untuk langsung dibawa ke rumah sakit,tempat beliau praktek.
"Pak wahyu (supir bunda) yang akan jemput ke rumah."Lanjut istriku. Cepat kubatalkan ambulan.
Malam terasa begitu panjang.sekitar jam satu dini hari,kami sampai di RS hermina Bekasi. Karena ada riwayat caesar pada kelahiran pertama,maka sesuai aturan istriku harus mengikuti serangkaian pemeriksaan. Mulai dari cek darah, jantung dan lain-lain. kudapati istriku merintih dalam sakitnya hampir setiap saat.suasana yang tak pernah kusukai.
Pagi hari Bunda dokter menghampiriku, “Pak, boleh kita bicara sebentar.”
Ia mengajakku keluar dari kamar perawatan, ada hal penting rupanya yang ingin ia sampaikan. Ada was-was yang mulai menjalar di hatiku.
“Menurut hasil pemeriksaan, istri bapak terkena demam berdarah, kondisinya kritis.
Trombositnya jauh dibawah angka 30.000. “ Masya Allah, bak petir disiang bolong, terkaget aku mendengar kabar dari Bunda. Lemas seluruh tubuh ini, aku pikir panas yang diderita istriku minggu yang lalu hanya demam biasa…ternyata DBD. Segala pikiran berkecamuk dalam diriku melihat kondisi istri yang sudah mau melahirkan serta kondisinya yang terkena DBD.
“Istri bapak terpaksa harus kami tunda proses melahirkannya, karena akan beresiko terhadap keselamatan ibu dan bayinya.” Begitu bunda melanjutkan penjelasannya. “ Dan bapak harus siap dengan kondisi ini, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Situasinya sekarang, bapak harus memilih antara keselamatan istri bapak atau bayi yang berada dalam kandungannya. Kalaupun nanti ternyata trombositnya tidak naik, kami akan tetap mengoperasi istri bapak untuk menyelamatkan bayinya. Resiko terburuk istri bapak akan mengalami pendarahan hebat yang beresiko pada keselamatannya.”
Rabbana, aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, keselamatan istriku atau keselamatan bayi yang berada didalam kandungannya. Dalam sujud panjang aku berdoa, agar Allah memberikan keselamatan kepada keduanya. Pun ketika takdir berkata lain, apakah istriku yang selamat atau bayinya…atau mungkin aku harus kehilangan keduanya, aku harus siap. Dalam hati aku mengucap lirih, hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula  wani’mannashir.
Yah, akhirnya istriku harus ‘dipaksa menunda’ kelahirannya. padahal sudah pembukaan dua. Ia diberikan obat untuk menahan mules agar tidak terjadi kontraksi.
Hari jum'at,hari ke-3 istriku berada di ruang IMCU.jumlah trombositnya masih harus dipantau. Pagi hari kutunggui ia sampai dokter yang memeriksanya datang,sebelum aku berangkat ke kantor.sudah berhari-hari aku tidak menjalankan rutinitas kerjaku. "Alhamdulillah,trombositnya sudah mulai naik. nanti siang cek darah lagi.kalau sudah di atas 90(ribu), insya Allah sudah bisa melahirkan."Bunda memberi kabar baik.” Akhirnya aku bisa berangkat ke kantor dengan sedikit lega. Namun,sepertinya ketegangan itu harus terus berlanjut.aku tidak terlalu tahu apa yang sebenarnya terjadi saat aku di kantor.kabar itu datang seperti petir di siang bolong.istriku mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.cerita yang sampai kepadaku,semua perawat begitu panik.hampir penuh ruangan itu oleh perawat yang menangani istriku.aku tidak bisa membayangkan yang terjadi ketika itu.hanya saja kondisi itu membuat istriku baru tersadarkan,ada yang tidak beres dengannya.yah,aku memang tidak pernah memberitahu dengan detil tentang kondisinya yang kritis.aku hanya menyampaikan bahwa dia kena demam berdarah dan untuk sementara proses melahirkannya harus ditunda sampai trombosit normal. Dalam kekalutan,aku masih bersyukur karena pendarahan hebat yang terjadi tidak menjadikan kondisi istriku drop.
Gerakan janin dalam rahim istriku melemah.alat pendeteksi jantung bayi menunjukkan detak jantung buah hati kami di bawah normal.berkali-kali pemantauan itu dilakukan,hasilnya tetap sama. "Mau tidak mau,hari ini juga harus lahir.kita tunggu cek darah terakhir.insya Allah mudah-mudahan malam nanti sudah bisa lahiran."Kabar yang sampai padaku. Aku benar-benar tak bisa menggambarkan suasana hatiku saat itu.aku seperti terhempas oleh tiupan angin kencang sedang aku tak bisa menghindar. Yaa Rabbana, kuatkan hamba…
Maghrib menjelang,obat penahan mules istriku dihentikan.kembali kusaksikan rintihannya hampir tak berhenti.perawat mulai memindahkannya ke ruang bersalin. "Kita coba dulu normal ya...kalau pembukaannya tidak bertambah,terpaksa harus caesar lagi."Aku tak bisa berfikir ketika bunda mengatakan itu.aku pasrah,yang aku inginkan istri dan anakku selamat.itu saja. Setelah maghrib,sakitnya menghebat.badannya mulai menggigil.mungkin karna badannya yang semakin melemah,apalagi sore tadi tak sempat sedikit pun menyentuh makanannya. "Bi,sakiiit...."Rintihnya.ada yang menetes dari kedua matanya.istriku mulai menangis. "Nda,kalau ga kuat bilang ya..."Kugenggam tangannya mencoba memberinya kekuatan. Istriku mengangguk.aku tahu caesar adalah hal yang paling tak diinginkannya. Pengalamannya yang pertama semakin membuatnya tak mau melewati proses itu, tapi Allah yang punya kehendak. "Bi,ummi nggak kuat...nggak apa-apa kita caesar lagi." Istriku pasrah.badannya semakin melemah karna sakit yang dirasakannya. Jam 9,jadwal untuk operasi istriku. Bunda datang sebelum istriku masuk ruang operasi. "Tenang aja ya,Bu...nggak apa-apa.bismillah aja...insya Allah kita caesar ya."Bunda berusaha menenangkan istriku. Belakangan aku tahu,ternyata dibalik ketenangannya sebagai dokter,jauh di dalam hatinya ada kepanikan yang sama karena yang akan dia tangani adalah teman sehalaqohnya. Kucium kening istriku,sebelum akhirnya pintu ruang operasi itu tertutup rapat.
 Alhamdulillah…Subhanallah. Akhirnya operasi berjalan denga lancar, ibu dan bayinya selamat. Tak kuasa aku mengucap syukur, kulihat istriku dan bayinya dalam keadaan yang lemas…perjuangan panjang untuk sebuah arti kehidupan.
Jam 3 dini hari.aku baru hendak memejamkan mata ketika tiba-tiba nokia di sampingku berdering.telepon dari istriku. "Bi,dede bayinya kekurangan oksigen.harus dirujuk ke perina sekarang juga"lemah suara di seberang sana mengabarkan.Robbana...ada apa lagi ini.rupanya ujian ini masih berlanjut.rasa lelah telah betul-betul menyerangku. "Ya,mi...nggak apa-apa.."Hanya itu yang bisa kukatakan sebelum akhirnya telepon itu ditutup.
Pagi harinya,aku segera meluncur ke rumah sakit. Kulihat anakku terbaring lemah dalam inkubator. Tak kuasa aku melihat, ada basah yang menetes dari sudut mata ini. Selang-selang itu begitu ‘perkasanya’ melilit tubuh mungil tak berdaya, jarum-jarum suntik dengan ‘lancang’ menusuk kulitnya yang lembut, deru nafasnya tak teratur, kulitnya membiru. Rupanya proses penundaan kelahiran membuatnya harus berjuang keras didalam rahim ibunya, ada sedikit cairan ketuban yang masuk kedalam tubuhnya serta masalah pada paru-parunya. Ini seperti pukulan kedua buatku. Semoga aku dapat melewatinya dengan sabar.

Seminggu berlalu, akhirnya anakku sudah diperbolehkan keluar dari ruangan perina. Lega rasanya, kami semua bisa berkumpul bersama. Tersadar aku, ternyata aku belum memberikan nama untuk bayi ‘perkasa’ ini. Sebetulnya kami ingin memberikannya nama ‘syahid’ jauh sebelum ia lahir, tapi aku jadi teringat setiap kali si sulung fathi ditanya nama dede bayi di perut umminya,dia selalu menjawab MU-JA-HID. Seperti sebuah do’a, karena mujahid kecilku memang harus melewati perjuangan teramat hebat untuk sebuah arti kehidupan.


Bekasi 14/12/13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar