(Tentang Sebuah Arti Kehidupan)
oleh: Latu Har Hary
Hari sudah larut saat aku sampai di rumah.
Kudapati istriku membukakan pintu untukku. Ada kuyu di wajahnya, mungkin ia
kelelahan karena jelang 36 minggu kehamilannya masih harus beraktivitas padat.
Maklum jelang pilkada walikota kali ini,benar-benar menyita waktunya sebagai
ketua kewanitaan sebuah partai Islam. Kusambut uluran tangannya yang hendak
menyalamiku. Innalillahi…aku terkejut, tangannya panas sekali.
"Badan ummi panas,Bi.." Katanya
menjawab kecemasanku.
Aku menghela napas...istriku ini memang
bandel. Sebenarnya aku sudah tak mengizinkannya beraktivitas lagi, tapi dia
tetap ngotot harus mengisi kajian tadi pagi dengan alasan tak ada orang yang
menggantikan. Sebagai suami yang faham amanah istri,terpaksa aku mengizinkannya
dengan catatan ini hari terakhir dia keluar rumah.
4 hari sudah istriku terbaring di tempat
tidur, aku mulai khawatir dengannya. Akhirnya aku mengajaknya periksa ke
dokter.
"Kalau panas dansakit kepalanya tidak
hilang, dua hari ke depan,periksa darah ya bu.." Saran dokter di akhir
pemeriksaannya. Alhamdulillah esoknya,sakit kepala istriku sudah tak terasa,
jadi tak perlu cek darah,pikirku. Aku pun mengultimatum istriku untuk
benar-benar ‘libur’ dari aktivitasnya.
Kulihat swiss army-ku, ternyata waktu sudah
menunjukkan jam 11.00 malam, ketika aku sampai dirumah.
“Hmm, sudah lumayan larut,” gumamku.
Kulihat bidadariku sudah terlelap dalam mimpinya.
Rasa kantuk pun sudah mulai menyerangku
saat tiba-tiba istriku berteriak. "Bi,ada darah...!" Sontak aku
terlonjak dari dudukku dan dengan gerakan kilat aku menuju kamar dimana istriku
berada. "Kayanya ummi mau lahiran deh,bi...perut ummi mules.."Katanya,meringis.
Bersama istri kusiapkan perlengkapan yang
akan dibawa.bersyukur ibuku belum tidur,sehingga aku bisa menitipkan si sulung.
Segera aku telepon klinik bersalin yang tidak terlalu jauh dari rumah,untuk
mengirimkan ambulan (yang sebelumnya sudah pernah dipesan).dan sambil menahan
sakit,istriku pun menelepon teman ngaji sekaligus dokter kandungannya.selesai
telepon ia memberitahuku untuk membatalkan ambulan. ‘Bunda’ (panggilan yang
biasa diberikan kepada dokter kandungannya) berpesan untuk langsung dibawa ke
rumah sakit,tempat beliau praktek.
"Pak wahyu (supir bunda) yang akan
jemput ke rumah."Lanjut istriku. Cepat kubatalkan ambulan.
Malam terasa begitu panjang.sekitar jam
satu dini hari,kami sampai di RS hermina Bekasi. Karena ada riwayat caesar pada
kelahiran pertama,maka sesuai aturan istriku harus mengikuti serangkaian
pemeriksaan. Mulai dari cek darah, jantung dan lain-lain. kudapati istriku
merintih dalam sakitnya hampir setiap saat.suasana yang tak pernah kusukai.
Pagi hari Bunda dokter menghampiriku, “Pak,
boleh kita bicara sebentar.”
Ia mengajakku keluar dari kamar perawatan,
ada hal penting rupanya yang ingin ia sampaikan. Ada was-was yang mulai
menjalar di hatiku.
“Menurut hasil pemeriksaan, istri bapak
terkena demam berdarah, kondisinya kritis.
Trombositnya jauh dibawah angka 30.000. “
Masya Allah, bak petir disiang bolong, terkaget aku mendengar kabar dari Bunda.
Lemas seluruh tubuh ini, aku pikir panas yang diderita istriku minggu yang lalu
hanya demam biasa…ternyata DBD. Segala pikiran berkecamuk dalam diriku melihat
kondisi istri yang sudah mau melahirkan serta kondisinya yang terkena DBD.
“Istri bapak terpaksa harus kami tunda
proses melahirkannya, karena akan beresiko terhadap keselamatan ibu dan
bayinya.” Begitu bunda melanjutkan penjelasannya. “ Dan bapak harus siap dengan
kondisi ini, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Situasinya sekarang, bapak
harus memilih antara keselamatan istri bapak atau bayi yang berada dalam
kandungannya. Kalaupun nanti ternyata trombositnya tidak naik, kami akan tetap
mengoperasi istri bapak untuk menyelamatkan bayinya. Resiko terburuk istri
bapak akan mengalami pendarahan hebat yang beresiko pada keselamatannya.”
Rabbana, aku dihadapkan pada pilihan yang
sangat sulit, keselamatan istriku atau keselamatan bayi yang berada didalam
kandungannya. Dalam sujud panjang aku berdoa, agar Allah memberikan keselamatan
kepada keduanya. Pun ketika takdir berkata lain, apakah istriku yang selamat
atau bayinya…atau mungkin aku harus kehilangan keduanya, aku harus siap. Dalam
hati aku mengucap lirih, hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’mannashir.
Yah, akhirnya istriku harus ‘dipaksa
menunda’ kelahirannya. padahal sudah pembukaan dua. Ia diberikan obat untuk
menahan mules agar tidak terjadi kontraksi.
Hari jum'at,hari ke-3 istriku berada di
ruang IMCU.jumlah trombositnya masih harus dipantau. Pagi hari kutunggui ia
sampai dokter yang memeriksanya datang,sebelum aku berangkat ke kantor.sudah
berhari-hari aku tidak menjalankan rutinitas kerjaku. "Alhamdulillah,trombositnya
sudah mulai naik. nanti siang cek darah lagi.kalau sudah di atas 90(ribu),
insya Allah sudah bisa melahirkan."Bunda memberi kabar baik.” Akhirnya aku
bisa berangkat ke kantor dengan sedikit lega. Namun,sepertinya ketegangan itu
harus terus berlanjut.aku tidak terlalu tahu apa yang sebenarnya terjadi saat
aku di kantor.kabar itu datang seperti petir di siang bolong.istriku
mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.cerita yang sampai kepadaku,semua
perawat begitu panik.hampir penuh ruangan itu oleh perawat yang menangani
istriku.aku tidak bisa membayangkan yang terjadi ketika itu.hanya saja kondisi
itu membuat istriku baru tersadarkan,ada yang tidak beres dengannya.yah,aku
memang tidak pernah memberitahu dengan detil tentang kondisinya yang kritis.aku
hanya menyampaikan bahwa dia kena demam berdarah dan untuk sementara proses
melahirkannya harus ditunda sampai trombosit normal. Dalam kekalutan,aku masih
bersyukur karena pendarahan hebat yang terjadi tidak menjadikan kondisi istriku
drop.
Gerakan janin dalam rahim istriku
melemah.alat pendeteksi jantung bayi menunjukkan detak jantung buah hati kami
di bawah normal.berkali-kali pemantauan itu dilakukan,hasilnya tetap sama.
"Mau tidak mau,hari ini juga harus lahir.kita tunggu cek darah terakhir.insya
Allah mudah-mudahan malam nanti sudah bisa lahiran."Kabar yang sampai
padaku. Aku benar-benar tak bisa menggambarkan suasana hatiku saat itu.aku
seperti terhempas oleh tiupan angin kencang sedang aku tak bisa menghindar. Yaa
Rabbana, kuatkan hamba…
Maghrib menjelang,obat penahan mules
istriku dihentikan.kembali kusaksikan rintihannya hampir tak berhenti.perawat
mulai memindahkannya ke ruang bersalin. "Kita coba dulu normal ya...kalau
pembukaannya tidak bertambah,terpaksa harus caesar lagi."Aku tak bisa
berfikir ketika bunda mengatakan itu.aku pasrah,yang aku inginkan istri dan
anakku selamat.itu saja. Setelah maghrib,sakitnya menghebat.badannya mulai
menggigil.mungkin karna badannya yang semakin melemah,apalagi sore tadi tak
sempat sedikit pun menyentuh makanannya.
"Bi,sakiiit...."Rintihnya.ada yang menetes dari kedua matanya.istriku
mulai menangis. "Nda,kalau ga kuat bilang ya..."Kugenggam tangannya
mencoba memberinya kekuatan. Istriku mengangguk.aku tahu caesar adalah hal yang
paling tak diinginkannya. Pengalamannya yang pertama semakin membuatnya tak mau
melewati proses itu, tapi Allah yang punya kehendak. "Bi,ummi nggak
kuat...nggak apa-apa kita caesar lagi." Istriku pasrah.badannya semakin
melemah karna sakit yang dirasakannya. Jam 9,jadwal untuk operasi istriku.
Bunda datang sebelum istriku masuk ruang operasi. "Tenang aja
ya,Bu...nggak apa-apa.bismillah aja...insya Allah kita caesar ya."Bunda
berusaha menenangkan istriku. Belakangan aku tahu,ternyata dibalik
ketenangannya sebagai dokter,jauh di dalam hatinya ada kepanikan yang sama
karena yang akan dia tangani adalah teman sehalaqohnya. Kucium kening
istriku,sebelum akhirnya pintu ruang operasi itu tertutup rapat.
Alhamdulillah…Subhanallah. Akhirnya operasi
berjalan denga lancar, ibu dan bayinya selamat. Tak kuasa aku mengucap syukur,
kulihat istriku dan bayinya dalam keadaan yang lemas…perjuangan panjang untuk
sebuah arti kehidupan.
Jam 3 dini hari.aku baru hendak memejamkan
mata ketika tiba-tiba nokia di sampingku berdering.telepon dari istriku.
"Bi,dede bayinya kekurangan oksigen.harus dirujuk ke perina sekarang
juga"lemah suara di seberang sana mengabarkan.Robbana...ada apa lagi
ini.rupanya ujian ini masih berlanjut.rasa lelah telah betul-betul menyerangku.
"Ya,mi...nggak apa-apa.."Hanya itu yang bisa kukatakan sebelum
akhirnya telepon itu ditutup.
Pagi harinya,aku segera meluncur ke rumah
sakit. Kulihat anakku terbaring lemah dalam inkubator. Tak kuasa aku melihat,
ada basah yang menetes dari sudut mata ini. Selang-selang itu begitu
‘perkasanya’ melilit tubuh mungil tak berdaya, jarum-jarum suntik dengan
‘lancang’ menusuk kulitnya yang lembut, deru nafasnya tak teratur, kulitnya
membiru. Rupanya proses penundaan kelahiran membuatnya harus berjuang keras
didalam rahim ibunya, ada sedikit cairan ketuban yang masuk kedalam tubuhnya
serta masalah pada paru-parunya. Ini seperti pukulan kedua buatku. Semoga aku
dapat melewatinya dengan sabar.
Seminggu berlalu, akhirnya anakku sudah
diperbolehkan keluar dari ruangan perina. Lega rasanya, kami semua bisa
berkumpul bersama. Tersadar aku, ternyata aku belum memberikan nama untuk bayi
‘perkasa’ ini. Sebetulnya kami ingin memberikannya nama ‘syahid’ jauh sebelum
ia lahir, tapi aku jadi teringat setiap kali si sulung fathi ditanya nama dede
bayi di perut umminya,dia selalu menjawab MU-JA-HID. Seperti sebuah do’a,
karena mujahid kecilku memang harus melewati perjuangan teramat hebat untuk
sebuah arti kehidupan.
Bekasi 14/12/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar