Oleh: Ranti Mardianti
Sore itu sebuah diskusi hangat bergulir
lama di grup media sosial dimana aku dan suamiku bergabung sebagai anggota. Grup ini terdiri dari teman-teman kami satu
angkatan dari berbagai jurusan dalam sebuah wadah aktivitas yang sama di kampus
kami. Topiknya adalah poligami. Sebenarnya bukan topik yang baru pertama kali
dibahas, tapi tetap saja mendapat respon yang hangat. Sebagian membahasnya
dengan sangat tenang dan berjarak, sebagian dengan opini yang mungkin sudah
bercampur dengan perasaan yang tidak lagi objektif. Entahlah. Saat itu aku dan
suami lebih banyak pasif memperhatikan dan tidak berkomentar. Suamiku sedang
asyik dengan anak kami yang hanya bisa ditemuinya saat akhir pekan karena dia
kerja di kota yang berbeda. Aku sendiri saat itu sedang berkutat dengan rasa
mual yang sedang getol-getolnya datang di trimester pertama kehamilan keduaku
ini.
Tapi sesaat kemudian
pembicaraan seputar poligami itu membawa ingatanku pada seseorang yang dulu aku
kenal di kelompok pengajianku di Bandung saat masih mengajar di salah satu
perguruan tinggi swasta di bilangan jalan DipatiUkur. Sebut saja namanya Teh Nana.
Berbeda dengan kelompok pengajian aku sebelumnya yang cenderung homogen dari
segi usia dan jenis kesibukan atau latar belakang pendidikan, kali ini kelompok
pengajiannya bisa dibilang beragam anggotanya. Aku dialihkan ke kelompok ini
karena waktu kerja dan kuliah aku yang sering tidak bisa seiring dengan jadwal
kelompok sebelumnya. Anggota yang termuda berusia duapuluh tahun, sedangkan
yang tertua sudah lewat dari tiga puluh tahun. Ada yang berprofesi mahasiswi
dari berbagai perguruan tinggi,ibu rumah tangga yang aktif berdagang, dan pengajar.
Teh Nana lah akhwat yang paling berumur, profesinya adalah seorang guru TK. Aku
sendiri saat itu berusia 24 tahun dan belum menikah. Ketiga paling tua diantara
kami bertujuh.
Isu perjodohan, ta’aruf
dan pernikahan kerap menjadi obrolan yang disambut antusias. Mungkin karena
usia sebagian besar dari kami sudah saatnya menikah. Aku sendiri biasanya tidak
terlalu menanggapi, bukan karena tidak berminat menikah, melainkan karena aku
lebih suka membicarakan itu kalau memang sudah ada calonnya dan itu pun hanya
dengan beberapa orang yang cukup dekat saja. Tapi sore itu, obrolan tentang
ta’aruf di kelompok kami menjadi begitu menggangguku. Dua orang teman di kelompok kami itu sedang
menjalani proses ta’aruf. Keduanya lebih muda dari aku, dan tentunya dari
akhwat yang kini wajahnya sedang terlintas di benakku. Keduanya
tampak sumringah.. dan tak ada yang salah dengan itu. Bukankah memang
membahagian jika jodoh yang dijanjikan Allah sudah semakin dekat. Percakapan selanjutnyalah yang saat itu dirasa begitu salah
oleh ku.
Seorang di antara mereka ‘mengeluhkan’
bahwa mungkin kali ini dia harus menolak lagi calon yang ditawarkan. Dan ini,
dia tambahkan, merupakan kali ketiga. Sayangnya, aku tidak mendengar rasa
khawatir disana, lebih pada rasa senang menjadi akhwat yang dicari oleh lebih
dari seorang ikhwan sehingga lebih bisa memilih. Yang seorang lagi tampak
terlalu berbunga mendeskripsikan keunggulan calon yang saat itu belum menjadi
haknya yang halal. Tak ingin kalah, seorang teman yang sudah menikah mengatakan
bahwa dia sekarang sangat bahagia dengan suaminya dan sepulang dari liqo akan
kencan berdua. Semua perkataan mereka berseliweran di telinga sementara mataku
mencuri pandang wajah Teh Nana. Ada
gurat sendu yang tak dapat disembunyikan. Mata yang menerawang. Dengan segala
kebaikan hatinya, aku yakin dia tidak sedang merasa iri dengan kebahagiaan
teman-temannya, melainkan mungkin sedang berfikir tentang dirinya. Sungguh aku
berharap curhat ta’aruf dan nikah itu segera berakhir. Benarlah ajaran bahwa canda dan tertawa yang
berlebih akan mengeraskan hati.
Pulang dari liqa sore itu aku berjalan beriring di belakang bersama
Teh Nana. Sementara kedua akhwat tadi sudah berjalan di depan kami, masih juga
membincangkan masalah yang tadi. Rupanya temanku itu menangkap rasa tak suka
pada wajahku. Sambil mencoba bercanda dia berkata ‘hei, Ranti ngambek ya pengen
cepet dapet calon juga ya? ‘ Aku meringis dan menggeleng. Aku bukan orang yang
pandai berkata-kata. Tapi aku suka menyentuh dan memeluk orang yang dekat
denganku. Maka aku gamit lengannya dengan hangat.
'Ranti ga suka obrolan
tadi karena teteh ya,’ ucapnya. ‘Teteh mah ga
apa-apa,Ran. Orang sudah ada jalannya masing-masing. Jodoh bisa cepat atau
lambat. Terserah ketentuan Alloh,’. Aku hanya bisa mengangguk dan terdiam lagi.
Aku ingat menggenggam tangannya yang
gemuk dan selalu terasa hangat. Tangan yang bekerja lebih keras dari kami semua
di kelompok liqo itu. Karena harus membantu keuangan keluarga sebagai anak
tertua. Saat itu aku merasa tangan itu sungguh sangat pantas untuk digenggam
oleh seorang suami yang baik untuknya. Mempertanyakan kemana ikhwan-ikhwan
itu.. apakah mencari yang wajahnya lebih cantik saja kah.. Kemana pula yang
berniat poligami, namun tetap mencari yang lebih mudah untuk ditanggung oleh
mata dan hati. Seakan membaca lintasan fikiranku dalam diam, dia berkata
‘jangan pernah mempertanyakan ketentuan Alloh. Berusaha saja, ya.’ Ah, teh
Nana, kalaulah kau tau sudah berapa kali temanmu yang kekanak-kanakan ini
‘protes’ ke murrobi kami karena seakan tak adil membagi kesempatan ta’aruf.
Padahal kalo diingat lagi, tentulah beliau pun bukannya tak ingin. Mungkin
karena yang ada di tangan, bukan untuk teh Nana.
Kini, memandang suamiku
dari kejauhan sambil mengikuti diskusi hangat di grup media social tadi, aku
sungguh merasa manusia memang tempatnya kelemahan. Sedangkan aturan Alloh
tidaklah untuk dipertanyakan. Seandainya saat ini ada seorang teh Nana yang
butuh perlindungan seorang suami, maukah aku berbagi suamiku denganya. Mungkin
sekali jawabannya adalah tidak. Padahal aku tahu dia akhwat yang baik, dan
berhak atas kesempatan itu. Karena aku adalah manusia yang hatinya belum kuat
untuk itu, bukan karena aku membenci ketentuan itu.
Poligami hal yang sulit bagi setiap pihak
yang terlibat di dalamnya. Sulit, jika memang ingin menjaganya tetap dalam
jalur yang benar. Kesiapan dan niat dari istri, suami dan calon istri yang baru
menjadi hal yang utama. Dan hanya mereka dan Alloh lah yang tahu. Tidak bagi
orang lain untuk menilainya.
‘Ayah..’ panggilku pada suamiku ‘
kira-kira, nanti ayah bakal pengen nambah istri ga, yah ? ‘
Dari balik punggung anak kami dia memandangku lantas terkekeh. Hmm. Kenapa
juga harus tertawa ya dia, apa dia bingung harus jawab apa. Batinku berkata.
‘ Satu aja yang kaya kamu gini udah repot..apalagi ada dua’ sambungnya
bercanda.
‘Jadi, kalo gitu mau cari yang lebih baik dari ibu dong.. banyak lo. ‘
kataku merajuk.
Tiba-tiba mukanya jadi serius..hatiku pun jadi kecut
‘ Ayah tahu, jawaban yang ingin Ibu dengar pada dasarnya pasti adalah kata tidak.’ Aku diam menunggu
dia melanjutkan. ‘ Tapi, jodoh itu hanya Alloh yang tahu, bukan ? Dan kita tidak boleh membenci ketentuannya.’
Ah, makin
kecutlah hatiku.
‘ Satu yang
Ayah tahu, tidak mudah menemukan akhwat yang mau menikahi ayah dengan kondisi ayah dulu saat
itu. Jadi biarlah Ayah mensyukurinya dan merasa cukup dengannya. Ibu juga
kan..’
Ada rasa
hangat di ujung mataku..tapi hari itu aku sedang tidak ingin melankolis. Maka
aku tersenyum padanya dan mengatakan ‘ ya, lagi pula hanya Ayah orang aneh yang
cukup berani meminang Ibu saat itu. Dan
ibu ga mau menukarnya.’ Kami pun terkekeh-kekeh bersama. Ah, dia pasti
tahu..apa sebenarnya maksud kalimatku itu.
Semoga Alloh memanjangkan jodoh kami hingga akhirat nanti. Sisi diri yang
paling dalam saat ini sungguh bermohon, untuk tidak diuji dengan ujian hati
itu. Dan jika ujian hati itu datang, semoga Alloh mennguatkan masing-masing
kami sehingga dapat menghadapinya dengan iman dan ilmu.
Wallahualam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar