Rabu, 10 Desember 2014

Cerita Sore

Oleh: Ranti Mardianti

Sore itu sebuah diskusi hangat bergulir lama di grup media sosial dimana aku dan suamiku bergabung sebagai anggota. Grup ini terdiri dari teman-teman kami satu angkatan dari berbagai jurusan dalam sebuah wadah aktivitas yang sama di kampus kami. Topiknya adalah poligami. Sebenarnya bukan topik yang baru pertama kali dibahas, tapi tetap saja mendapat respon yang hangat. Sebagian membahasnya dengan sangat tenang dan berjarak, sebagian dengan opini yang mungkin sudah bercampur dengan perasaan yang tidak lagi objektif. Entahlah. Saat itu aku dan suami lebih banyak pasif memperhatikan dan tidak berkomentar. Suamiku sedang asyik dengan anak kami yang hanya bisa ditemuinya saat akhir pekan karena dia kerja di kota yang berbeda. Aku sendiri saat itu sedang berkutat dengan rasa mual yang sedang getol-getolnya datang di trimester pertama kehamilan keduaku ini.

Tapi sesaat kemudian pembicaraan seputar poligami itu membawa ingatanku pada seseorang yang dulu aku kenal di kelompok pengajianku di Bandung saat masih mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di bilangan jalan DipatiUkur. Sebut saja namanya Teh Nana. Berbeda dengan kelompok pengajian aku sebelumnya yang cenderung homogen dari segi usia dan jenis kesibukan atau latar belakang pendidikan, kali ini kelompok pengajiannya bisa dibilang beragam anggotanya. Aku dialihkan ke kelompok ini karena waktu kerja dan kuliah aku yang sering tidak bisa seiring dengan jadwal kelompok sebelumnya. Anggota yang termuda berusia duapuluh tahun, sedangkan yang tertua sudah lewat dari tiga puluh tahun. Ada yang berprofesi mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi,ibu rumah tangga yang aktif berdagang, dan pengajar. Teh Nana lah akhwat yang paling berumur, profesinya adalah seorang guru TK. Aku sendiri saat itu berusia 24 tahun dan belum menikah. Ketiga paling tua diantara kami bertujuh.  

Isu perjodohan, ta’aruf dan pernikahan kerap menjadi obrolan yang disambut antusias. Mungkin karena usia sebagian besar dari kami sudah saatnya menikah. Aku sendiri biasanya tidak terlalu menanggapi, bukan karena tidak berminat menikah, melainkan karena aku lebih suka membicarakan itu kalau memang sudah ada calonnya dan itu pun hanya dengan beberapa orang yang cukup dekat saja. Tapi sore itu, obrolan tentang ta’aruf di kelompok kami menjadi begitu menggangguku.  Dua orang teman di kelompok kami itu sedang menjalani proses ta’aruf. Keduanya lebih muda dari aku, dan tentunya dari akhwat yang kini wajahnya sedang terlintas di benakku. Keduanya tampak sumringah.. dan tak ada yang salah dengan itu. Bukankah memang membahagian jika jodoh yang dijanjikan Allah sudah semakin dekat. Percakapan selanjutnyalah yang saat itu dirasa begitu salah oleh ku.

Seorang di antara mereka ‘mengeluhkan’ bahwa mungkin kali ini dia harus menolak lagi calon yang ditawarkan. Dan ini, dia tambahkan, merupakan kali ketiga. Sayangnya, aku tidak mendengar rasa khawatir disana, lebih pada rasa senang menjadi akhwat yang dicari oleh lebih dari seorang ikhwan sehingga lebih bisa memilih. Yang seorang lagi tampak terlalu berbunga mendeskripsikan keunggulan calon yang saat itu belum menjadi haknya yang halal. Tak ingin kalah, seorang teman yang sudah menikah mengatakan bahwa dia sekarang sangat bahagia dengan suaminya dan sepulang dari liqo akan kencan berdua. Semua perkataan mereka berseliweran di telinga sementara mataku mencuri pandang wajah  Teh Nana. Ada gurat sendu yang tak dapat disembunyikan. Mata yang menerawang. Dengan segala kebaikan hatinya, aku yakin dia tidak sedang merasa iri dengan kebahagiaan teman-temannya, melainkan mungkin sedang berfikir tentang dirinya. Sungguh aku berharap curhat ta’aruf dan nikah itu segera berakhir. Benarlah ajaran bahwa canda dan tertawa yang berlebih akan mengeraskan hati.
Pulang dari liqa sore itu aku berjalan beriring di belakang bersama Teh Nana. Sementara kedua akhwat tadi sudah berjalan di depan kami, masih juga membincangkan masalah yang tadi. Rupanya temanku itu menangkap rasa tak suka pada wajahku. Sambil mencoba bercanda dia berkata ‘hei, Ranti ngambek ya pengen cepet dapet calon juga ya? ‘ Aku meringis dan menggeleng. Aku bukan orang yang pandai berkata-kata. Tapi aku suka menyentuh dan memeluk orang yang dekat denganku. Maka aku gamit lengannya dengan hangat.

'Ranti ga suka obrolan tadi karena teteh ya,’ ucapnya. ‘Teteh mah ga apa-apa,Ran. Orang sudah ada jalannya masing-masing. Jodoh bisa cepat atau lambat. Terserah ketentuan Alloh,’. Aku hanya bisa mengangguk dan terdiam lagi. Aku ingat menggenggam tangannya yang gemuk dan selalu terasa hangat. Tangan yang bekerja lebih keras dari kami semua di kelompok liqo itu. Karena harus membantu keuangan keluarga sebagai anak tertua. Saat itu aku merasa tangan itu sungguh sangat pantas untuk digenggam oleh seorang suami yang baik untuknya. Mempertanyakan kemana ikhwan-ikhwan itu.. apakah mencari yang wajahnya lebih cantik saja kah.. Kemana pula yang berniat poligami, namun tetap mencari yang lebih mudah untuk ditanggung oleh mata dan hati. Seakan membaca lintasan fikiranku dalam diam, dia berkata ‘jangan pernah mempertanyakan ketentuan Alloh. Berusaha saja, ya.’ Ah, teh Nana, kalaulah kau tau sudah berapa kali temanmu yang kekanak-kanakan ini ‘protes’ ke murrobi kami karena seakan tak adil membagi kesempatan ta’aruf. Padahal kalo diingat lagi, tentulah beliau pun bukannya tak ingin. Mungkin karena yang ada di tangan, bukan untuk teh Nana.

Kini, memandang suamiku dari kejauhan sambil mengikuti diskusi hangat di grup media social tadi, aku sungguh merasa manusia memang tempatnya kelemahan. Sedangkan aturan Alloh tidaklah untuk dipertanyakan. Seandainya saat ini ada seorang teh Nana yang butuh perlindungan seorang suami, maukah aku berbagi suamiku denganya. Mungkin sekali jawabannya adalah tidak. Padahal aku tahu dia akhwat yang baik, dan berhak atas kesempatan itu. Karena aku adalah manusia yang hatinya belum kuat untuk itu, bukan karena aku membenci ketentuan itu.
Poligami hal yang sulit bagi setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Sulit, jika memang ingin menjaganya tetap dalam jalur yang benar. Kesiapan dan niat dari istri, suami dan calon istri yang baru menjadi hal yang utama. Dan hanya mereka dan Alloh lah yang tahu. Tidak bagi orang lain untuk menilainya.

‘Ayah..’ panggilku pada suamiku ‘ kira-kira, nanti ayah bakal pengen nambah istri ga, yah ?
Dari balik punggung anak kami dia memandangku lantas terkekeh. Hmm. Kenapa juga harus tertawa ya dia, apa dia bingung harus jawab apa. Batinku berkata.
‘ Satu aja yang kaya kamu gini udah repot..apalagi ada dua’ sambungnya bercanda.
‘Jadi, kalo gitu mau cari yang lebih baik dari ibu dong.. banyak lo. ‘ kataku merajuk.
Tiba-tiba mukanya jadi serius..hatiku pun jadi kecut
‘ Ayah tahu, jawaban yang ingin Ibu dengar pada dasarnya  pasti adalah kata tidak.’ Aku diam menunggu dia melanjutkan. ‘ Tapi, jodoh itu hanya Alloh yang tahu, bukan ? Dan kita tidak boleh membenci ketentuannya.’
Ah, makin kecutlah hatiku.
‘ Satu yang Ayah tahu, tidak mudah menemukan akhwat yang mau  menikahi ayah dengan kondisi ayah dulu saat itu. Jadi biarlah Ayah mensyukurinya dan merasa cukup dengannya. Ibu juga kan..’
Ada rasa hangat di ujung mataku..tapi hari itu aku sedang tidak ingin melankolis. Maka aku tersenyum padanya dan mengatakan ‘ ya, lagi pula hanya Ayah orang aneh yang cukup berani meminang Ibu saat itu. Dan ibu ga mau menukarnya.’ Kami pun terkekeh-kekeh bersama. Ah, dia pasti tahu..apa sebenarnya maksud kalimatku itu.
Semoga Alloh memanjangkan jodoh kami hingga akhirat nanti. Sisi diri yang paling dalam saat ini sungguh bermohon, untuk tidak diuji dengan ujian hati itu. Dan jika ujian hati itu datang, semoga Alloh mennguatkan masing-masing kami sehingga dapat menghadapinya dengan iman dan ilmu.
Wallahualam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar