Mamah memintaku memanggilnya bapak. Tapi lidah kecilku hanya bisa mengulang-ngulang papap, papap, sehingga dengan itulah ia aku panggil sampai sekarang, saat usiaku sudah lebih dari separuh usianya.
Banyak hal-hal pertama dalam hidupku, kulakukan bersamanya...
Dialah yang pada usia kelimaku, mengajarkanku membaca, sehingga saat TK aku bisa mulai memahami aksara dan menyukai buku. Latihan berpuasa, membangunkan saat ku tidur nyenyak, memangku untuk cuci muka, duduk di meja makan, dan kantukku baru hilang sempurna, saat makanan di piring tinggal separuh. Seharian aku bermain dengan perut menahan sakit dan dia berusaha menjaga supaya aku tak berbuka. Meski orang-orang di sekitarku mencemaskanku dan memarahinya. Dia memilih memboncengku dengan sepeda motornya, berharap pemandangan sore akan membuatku melupakan lapar. Nyatanya, barangkali menahan lapar sejak kecil itulah yang menjadikan puasa menjadi favoritku sebelum kemudian kutemukan sholat lail di sekolah menengah.
Bacaan iftitah diketikkan rapi, dan memintaku menghapalnya saat aku akan masuk SD. Sholatku baru maghrib saja kala itu. Sepeda tabungan TK pun baru aku bisa pakai tanpa roda tambahan setelah berlatih di satu senja bersamanya. Lalu mulai belajar membaca AQ, tanpa Iqra, lama sekali. Anehnya baru setelah bergabung di madrasah baru bisa lancar. Memang tak semua hal bisa diajarkannya.
Lelaki itu mengajarkan banyak lagu, pandai memainkan segala alat musik dan aku menyumbangkan nyanyian (membuat nyanyian menjadi sumbang, red). Membuat peralatan sederhana dengan tangannya sendiri, hingga sampai menjelang remaja, aku mengira dialah orang paling serba bisa.
Dia sangat lembut. Saat aku menangis karena tanganku yang retak-oleh-oleh bermain kasti-, diurut oleh ahlinya, dia menangis diam-diam. Membuatku menahan untuk tidak mengaduh dan hanya menangis diam-diam agar tak menambah gusarnya.
Jelang usia 11 tahun, dibawakannya bacaan-bacaan tentang muslimah. Tentang jilbab, dsb. Mengizinkan dengan berat hati saat aku menolak masuk pesantren dan memilih smp favorit di kotaku. Alhamdulillah...Allah karuniakan hidayahNya untukku, hingga Ramadhan 1992, jelang penghujung kelas 1 SMP aku putuskan untuk berjilbab.
Pada masa kritis usia puber, saat seseorang datang menawarkan 'cinta', dia pahatkan dalam hatiku tentang arti sebuah kehormatan diri seorang muslimah. Membuatku menahan diri, menguatkan hati, bahkan bersabar untuk dimusuhi selama satu dua purnama.
Bila kawan laki-laki ingin mengunjungi ku di rumahku, maka aku cukup mengatakan: "wah ayah saya galak" untuk membatalkan niatnya. Sampai-sampai seorang kawan yang ingin meminjam buku harus meminta kawalan sepasukan kawan wanita untuk menemaninya ke rumah!
Barangkali doanya pula, yang mengantarkanku pada komunitas orang-orang shalih saat smu, untuk makin membuatku terarah, dan makin mampu menjaga diri.
Lelaki itu pula yang meyakinkanku bahwa memiliki akhlaq yang baik, lebih berharga dari setiap prestasi manapun. Membuatku tegar kembali saat aku merasa gagal dengan kuliah lalu ingin bangkit membuktikan harapannya.
Dia telah menahan harapannya, untuk melihatku berada disisinya. Melepaskan ku terbang, mengembara, melihat berbagai sisi bumi Allah. Dia hanya minta, sediakan tempatku pulang, berkumpul bersama adik-adikku di hari tua.
Aku berharap, saat satu hari nanti dia melepaskanku pada seorang lelaki yang shalih, yang akan mengambilkan tanggungjawabnya, maka ia akan melepasnya dengan ikhlas, karena ia yakin lelaki itu akan membawaku semakin menjadi mulia. Dan aku berharap, setelah itu, para malaikat akan mencatatkan seribu kebaikan padanya, karuni terbaik dari sisinya karena telah dia curahkan segenap kebisaannya untuk mendidik seorang anak perempuan.
Sungguh...sedikit kebaikan yang kupunya, sebagian besar diantaranya adalah terbangun melalui tanganya.
Lelaki itu bukan pujangga, tapi dalam aliran cinta yang tak ada muara, dia puisikan setiap nafasnya untukku.
Tokyo, 16 Juli 2004
--RO--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar