Para pembaca blog97 yang budiman.... :)
Berikut adalah Resume Sarasehan Ketahanan Keluarga bersama Ustadz Cahyadi Takariawan dan Ustadzah Ida Nur Laila pada hari Sabtu, 29 Agustus 2015 di Hotel Sahid Surabaya.
1. Keluarga bervisi syurga, itulah cita-cita kita. Keluarga yang sukses dan bahagia, baik di dunia maupun akhiratnya. Lalu bagaimana menciptakannya? Kendala yang paling tampak adalah masalah&konflik, lalu timbul perasaan tidak cocok dengan pasangan kita. Ustadz Cahyadi menggambarkan konflik dalam keluarga seperti fenomena gurun pasir. Pasir yang menerpa kita sebenarnya bobotnya ringan. Namun jika kita terus menerus diterpa pasir, lalu kita tidak pernah berusaha membersihkannya, dibiarkan saja menebal. Maka lama-kelamaan kita sampai pada fase tidak mampu keluar dari timbunan pasir yang berat.
Masalah dalam keluarga diibaratkan pasir, pada dasarnya merupakan hal-hal yang ringan, sepele dan remeh. Namun karena dibiarkan menumpuk, maka masalah itu menjadi terasa berat. Mari kita simak kisah burung pipit berikut ini:
Pada suatu hari, seorang suami menangkap burung pipit kecil, dan membawanya pulang ke rumah. Sesampai di rumah, dimasukkan burung pipit itu ke dalam sangkar. Dengan bangga ia menunjukkan burung pipit itu kepada sang istri.
"Lihat, betapa elok burung pipit jantan ini", ujar suami.
"Iya memang indah. Tapi ini burung pipit betina", jawab istri.
"Tidak. Ini jantan !" sang suami tidak mau mengalah.
"Betina!" sang istri pun bertahan.
"Lihat yang benar. Burung ini jelas-jelas jantan", ujar suami.
"Kamu yang salah lihat. Ini jelas burung betina", sergah sang istri.
Pertengkaran pun terjadi dengan sengit. Kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah. Hanya persoalan jantan atau betina, mereka tidak ada yang mau mengalah. Padahal, seandainya burung pipit itu jantan atau betina, tidak akan berpengaruh apapun dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Pertengkaran kian meruncing. Malam itu mereka berdua tidur dalam situasi hati yang panas.
Hari berganti, bulan berlalu... Setiap kali bicara burung pipit kecil itu mereka selalu bertengkar. Hingga akhirnya sang suami melepas burung itu terbang bebas, karena dianggap membawa pertengkaran dalam keluarga. Sejak peristiwa itu, mereka sudah tidak lagi bertengkar soal burung pipit.
Tiga tahun berlalu sudah.....
Pada suatu malam sang suami teringat burung pipit kecil itu. Ia merasa geli dengan peristiwa yang pernah mereka lalui bersama burung pipit. Sambil tertawa, ia bertanya kepada sang istri.
"Engkau ingat pertengkaran bodoh kita tentang burung pipit dulu itu?"
"Ya aku masih ingat. Aku bahkan berpikir hendak minta cerai waktu itu. Tapi syukurlah engkau segera melepas burung pipit betina itu.....", jawab sang istri.
"Hah... ? Burung pipit betina? Tidak! Ia jantan!" teriak sang suami.
"Tidak bisa. Burung pipit itu jelas-jelas betina", balas sang istri.
"Tidak. Itu pasti jantan", sergah sang suami.
Malam itu mereka kembali bertengkar hebat tentang burung pipit, setelah tiga tahun yang lalu dilepas dari sangkarnya.
2. Kembali ke pertanyaan pertama. Keluarga harmonis dan bahagia bervisi syurga, bagaimana menciptakannya? Keimanan pada Allah tentu hal yang mutlak, lalu selanjutnya apa? Keharmonisan dan kebahagiaan tercipta jika kita lebih dahulu mampu menciptakan kesejiwaan antara diri kita dan pasangan kita. Bagaimana menciptakan kesejiwaan?
Menjadilah SAHABAT bagi pasangan. Semakin panjang usia pernikahan, maka hal inilah yang dibutuhkan, yaitu kualitas persahabatan. Seorang sahabat adalah seseorang yang membuat kita nyaman, tempat curhat dan seseorang yang dengannya kita menikmati ‘sesuatu‘ bersama. Oleh karena itu sepasang suami istri seyogyanya tidak terjebak hanya ‘sibuk‘ berumah tangga seperti halnya kolega dalam bekerja, setiap hari yang dibicarakan hanya pembagian tugas, siapa yang menjemput anak-anak, pembayaran uang sekolah, listrik dll. Tapi sepasang suami istri seharusnya juga kerap menikmati ‘sesuatu‘ bersama sebagaimana layaknya dua orang sahabat.
Kemudian peliharalah perasaan suka. Bagaimana caranya?
- Bukalah ruang psikologis yang lapang: selesaikan masalah-masalah kecil dan bersikaplah toleran terhadap kekurangan pasangan
- Oleh karena bahasa verbal itu terbatas, maka perbanyak bahasa nonverbal yang membuat nyaman dan mengalir selama 24jam seperti belaian, dan pelukan.
- Ucapkanlah dan milikilah perasaan berterimakasih terhadap semua kebaikan pasangan. Ketidakmampuan melihat kebaikan pasangan adalah salah satu hal yang dapat menyusutkan rasa suka.
3. Berkaitan dengan bahasa non verbal, pembicara memberikan penekanan khusus tentang manfaat berpelukan dan bagaimana seharusnya cara tidur sepasang suami istri yang berkualitas.
Manfaat Berpelukan.
Inilah realitas kita di kehidupan modern ini, sepasang suami istri mengalami keterpisahan. Terpisah sejak pagi hingga sore atau malam karena rutinitas pekerjaan, atau lazim kita melihat sepasang suami istri karena satu dan lain hal terpaksa harus terpisah karena dalam jangka waktu yang cukup panjang. Meskipun kecanggihan teknologi dapat meminimalisir keterpisahan ini, dengan telephone, chatting, video call, dll. Namun tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan pelukan langsung antara suami dan isteri. Teknologi secangguh apapun tidak akan mampu menggantikan perasaan nyaman yang muncul akibat pelukan mesra. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pelukan mampu membuat seseorang menjadi awet muda. Bagaimana bisa? Saat berpelukan, tubuh melepaskan hormon oxytocin yang berkaitan dengan rasa damai dan cinta. Hormon ini membuat jantung dan pikiran menjadi tenang dan sehat. Itulah sebabnya, pelukan diyakini dapat menambah angka harapan hidup pasangan anda. Satu pelukan, bisa meningkatkan angka harapan hidup satu hari bagi pasangan anda.
Setiap kali anda memeluk pasangan dengan penuh ketulusan dan kasih sayang, bertambahlah angka harapan hidupnya, karena bertambah rasa bahagia dan kesehatan jiwanya. Penambahan angka harapan hidup ini akan tampak pada penampilannya yang awet muda. Semakin sering dipeluk, maka semakin awet muda.
Beberapa Cara Tidur Suami Istri yang Berkualitas.
a. Usahakan selalu berangkat ke tempat tidur bersama pasangan.
Hendaknya suami dan istri berangkat ke ranjang tempat tidur dalam waktu yang sama. Tentu saja, ranjang tempat tidur merekapun harus sama. Jangan biasakan tidur sendiri-sendiri, baik dari segi waktu maupun tempat. Salah satu bentuk kemesraan suami-istri adalah tidur bersama, pada waktu yang sama dan pada tempat yang sama.
b. jauhkan handphone dan gadget dari tempat tidur
Salah satu larangan bagi suami istri adalah membawa gadget dan handphone ke tempat tidur. Selesaikan semua urusan Anda dengan gadget, handphone dan laptop sebelum berangkat ke tempat tidur. Setelah menyelesaikan berbagai urusan tersebut, taruh handphone dan gadget di tempat yang terpisah dari ranjang tempat tidur.
Selain berbahaya dari segi radiasi, keberadaan gadget dan handphone juga mengganggu kenyamanan tidur bersama pasangan. Bunyi notifikasi pesan masuk dari WhatsApp, BBM, SMS, dll, sangat mengganggu kebersamaan mereka menjelang tidur dan pada saat tidur. Walaupun sudah dibuat mode silent, namun tetap berpotensi mengganggu kenyamanan saat bersama pasangan. Utamakan pasangan saat sudah di tempat tidur, jangan mengutamakan gadget dan handphone.
c. Tidurlah dengan posisi mesra
Suami dan istri hendaknya tidur dengan posisi yang mesra yang akan semakin menguatkan perasan cinta di antara mereka. Posisi yang direkomendasikan para ahli kesehatan jiwa adalah tidur miring ke kanan, di mana istri berada di depan, dengan kaki sedikit ditekuk. Sedangkan suami berada di bagian belakang, dengan kaki sedikit ditekuk, sambil memeluk istri.
Posisi seperti ini diyakini akan membuat suami dan istri menyatu hati. Suami bahagia karena merasa memiliki istri sepenuhnya. Istri bahagia karena merasa dimiliki suami sepenuhnya. Suami dan istri akan tidur dalam suasana yang nyaman, tenang, dan damai. Seakan mereka menyatakan, tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua. Sampai tidur pun tetap bersama.
4. Selingkuh, kata-kata ini makin marak kita dengar. Perselingkuhan telah menjadi penyebab perceraian yang kian mewabah. Semakin banyak kasus cerai yang disebabkan oleh perselingkuhan salah satu dari suami atau istri.
Ada perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan yang berselingkuh, yaitu:
Bagi laki-laki, peluang selingkuh sebagian besar bermula dari pandangan mata. Itu karena lelaki adalah makhluk yang sangat visual. Kebanyakan laki-laki yang selingkuh bermula dari ketertarikan terhadap penampilan perempuan dan sambutan yang baik dari perempuan tersebut. Laki-laki melakukan selingkuh dengan ‘sadar’ bahwa mereka menginginkan perempuan menarik tersebut. Secara sadar laki-laki mulai mengajak ngobrol, menawarkan bantuan, mengajak jalan-jalan, memberikan perhatian khusus, dan merayunya. Pada laki-laki, perselingkuhan banyak bermula dari tindakan sadar.
Bagi perempuan, perselingkuhan pada umumnya terjadi secara ‘tidak sadar’. Perempuan bukan makhluk visual seperti laki-laki. Perempuan adalah makhluk yang sangat banyak menggunakan perasaan, maka mereka menjadi nyaman saat merasa mendapatkan kedekatan emosional dengan seorang laki-laki. Bisa jadi awalnya hanya sekedar obrolan biasa, setelah merasa nyaman, mulai berkembang menjadi curhat. Semakin banyak yang diceritakan, semakin intens mengadakan kontak dan pertemuan, dan akhirnya merasa semakin dekat secara emosional.
Seseorang datang menemui Ust Cahyadi dan mengadukan pasangannya yang ternyata terbukti telah berselingkuh selama bertahun-tahun. Ia merasa heran, mengapa pasangannya tiba-tiba melakukan hal demikian. Padahal selama ini ia merasa semuanya baik-baik saja. Jadi benarkah sesuatu perubahan bisa terjadi secara tiba-tiba, termasuk selingkuh? Jawabannya tidak. Semua itu melalui sebuah proses. Lalu mengapa kita sebagai suami atau istrinya bisa tidak mengetahui hal tersebut padahal telah berlangsung lama? Maka jawabannya adalah bahwa kita tidak mampu atau berhenti mengenali pasangan kita. Karena jika kita adalah seseorang yang mampu mengenali pasangan kita, maka perubahan sekecil apapun akan mampu terdeteksi. Mulailah untuk memahami kembali kondisi pasangan, perbaharuilah terus pemahaman kita. Karena kemampuan mengenali dan memahami pasangan akan sangat menentukan kualitas hubungan antara suami dan istri.
5. Poligami. Janganlah menjadikan poligami sebagai bahan candaan dan sarana untuk mengancam, karena akan membuat salah satu pihak tersakiti. Meskipun tentu kita tidak mengingkari kebolehan melakukannya dengan segala syarat dan ketentuannya. Namun pada kesempatan kali ini pembicara memberikan tips tentang bagaimana caranya agar pasangan kita tidak pindah ke lain hati, diantaranya adalah:
- Bagi para istri, jadilah istri yang menyenangkan suami jika dipandang oleh suami. Berusahalah tampil menarik dihadapan suami untuk menyenangkannya. Para istri berdandan bukan untuk menyenangkan dirinya tapi untuk menyenangkan suaminya. Maka pahamilah selera suami dan bukan melulu memahami selera diri sendiri.
- Di luar sana, godaan para suami begitu besar. Maka menjadilah istri yang suka ‘menggoda’ suami. Menaklukan suami bukan dengan diskusi dan memenangkan perdebatan dengannya. Namun dengan menyenangkan pandangannya dan dengan menenangkan jiwanya.
- Bagi para suami, berikanlah ‘dana’ tambahan bagi para istri untuk merawat dan mempercantik dirinya. Saat ini banyak terdapat salon-salon dan klinik kecantikan yang menawarkan berbagai treatment untuk merawat dan mengubah penampilan menjadi lebih indah, namun semua itu tentu saja berbiaya tinggi tergantung pada pesanan yang diinginkan. Oleh karena itu, jika anda termasuk suami yang tidak mampu memberikan ‘dana’ tambahan tersebut, maka terimalah istri anda apa adanya. Jangan menuntut sesuatu yang di luar kemampuannya.
- Perselingkuhan adakalanya bukan hanya tentang fisik, lebih cantik atau lebih ganteng, tetapi tentang masalah kedekatan emosional. Maka menjadilah pasangan yang pengertian, mampu menghargai kebaikan pasangan dan ekspresikanlah cinta meski dengan hal-hal yang kecil sebagai perwujudan dari kasih sayang dan ketulusan. Menjadilah pasangan yang memiliki ‘kesejiwaan’ sebagaimana dijelaskan di point-point sebelumnya di atas.
6. Pembicara memberikan penekanan khusus mengenai HP, smartphone, tablet, dsb. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran benda-benda tersebut berikut aplikasi yang ada didalamnya, seperti email, media social FB, Whatsapp, BBM, dll. Memiliki andil yang besar dalam berkomunikasi secara luas dan bebas, sekaligus kerap menjadi sarana terjadinya perselingkuhan dan berujung pada ketidakharmonisan dan perceraian antara suami dan istri. Maka salah satu cara menjaga diri dan pasangan dari ketergodaan adalah dengan menjadikan handphone dan perangkat komunikasi lainnya sebagai milik bersama dalam keluarga. Ketika tengah di rumah, handphone hendaknya ditaruh di tempat tertentu yang mudah diakses semua anggota keluarga. Suami tidak layak menyembunyikan handphone-nya, sebagaimana istri tidak layak menyembunyikan handphone-nya. Suami dan istri harus saling percaya dan saling menjaga, sehingga tidak ada yang perlu disembunyikan dari pasangan. Yang dimaksud di sini bukanlah mengawasi HP pasangan kita selama 24 jam. Namun kata kuncinya adalah ‘keleluasaan akses’. Sehingga dari iklim keterbukaan ini mampu menjadi penjaga dan sistem kontrol bagi kita dan pasangan kita.
Demikian, selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar